Komunikasi Keluarga

Keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi dengan kelompoknya (Kurniadi, 2001: 271). Keluarga merupakan bagian masyarakat yang fundamental bagi kehidupan pembentukan kepribadian anak manusia. Hal ini diungkapkan Muhidin (1981 : 52) yang mengemukakan bahwa ; “Tidak ada satupun lembaga kemasyarakatan yang lebih efektif didalam membentuk kepribadian anak selain keluarga. Keluarga tidak hanya membentuk anak secara fisik tetapi juga berpengaruh secara psikologis”. Pendapat diatas dapat dimungkinkan karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi seorang anak manusia, di dalam keluarga seorang anak dibesarkan, mempelajari cara-cara pergaulan yang akan dikembangkannya kelak di lingkungan kehidupan sosial yang ada di luar keluarga.

Karena beragam dan luasnya pengertian tentang keluarga maka penting adanya pembatasan atau definisi keluarga. Diantaranya pendapat Burgess dan Lock yang membedakan keluarga dengan kelompok sosial lainnya adalah sebagai berikut:

  1. Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah atau adopsi. Pertalian antara suami dan istri adalah perkawinan dan hubungan antara orang tua dan anak biasanya adalah darah atau kadangkala adopsi
  2. Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga, kadang-kadang seperti masa lampau rumah tangga adalah keluarga luas, meliputi didalamnya empat sampai lima generasi. Sekarang rumah tangga semakin kecil ukurannya, umumnya dibatasi oleh suami istri anak atau dengan satu anak, dua atau tiga anak.
  3. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Peranan-peranan tersebut dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing keluarga diperkuat melalui sentimen-sentimen yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi emosional yang menghasilkan pengalaman.

Komunikasi Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dalam suatu masyarakat yang hidup bersama dari beberapa orang yang mempunyai asal usul yang sama yang bertempat kediaman sama, keluarga merupakan gejala universal sebagai bentuk kehidupan sosial diseluruh dunia didasarkan atas ikatan emosional antara suami istri dengan anak-anak terhadap orang tuanya (Susanto, 1995:177).

Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina, sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan. Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk dari hubungan laki-laki dan perempuan, perhubungan ini yang paling sedikit berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Keluarga dalam bentuk yang murni merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

Komunikasi keluarga merupakan komunikasi antara suami istri, serta orang tua dan anak adalah suatu hal yang sangat krusial dalam suatu keluarga, karena melalui komunikasi masing-masing pihak dapat saling memahami dan apabila proses dijalankan dalam waktu yang lama akan menimbulkan saling pengertian diantara masing-masing pihak.

Diantara cara yang khas tersebut komunikasi keluarga menggunakan komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi sebagai saluran komunikasi. Bentuk komunikasi antara orang tua (ayah-ibu) dan anak berkaitan erat dengan peranan masing-masing anggota keluarga dalam menjalankan fungsi keluarga dalam arti luas. Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu anak-anak memahami kehidupan melalui berbagai kegiatan sehari-hari.

Dilihat dari pengertian di atas bahwa kata-kata, sikap tubuh, intonasi suara dan tindakan, mengandung maksud mengajarkan, mempengaruhi dan memberikan pengertian. Sedangkan tujuan pokok dari komunikasi ini adalah memelihara interaksi antara satu anggota dengan anggota lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Komunikasi dalam keluarga juga dapat diartikan sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan. Terlihat dengan jelas bahwa dalam keluarga pasti membicarakan hal-hal yang terjadi pada setiap individu, komunikasi yang dijalin merupakan komunikasi yang dapat memberikan suatu hal yang dapat diberikan kepada setiap anggota keluarga lainnya. Dengan adanya komunikasi, permasalahan yang terjadi diantara anggota keluarga dapat dibicarakan dengan mengambil solusi terbaik.

Fungsi Komunikasi Keluarga

Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan. Menurut Gunarsa (Dasrun hidayat, 2012 : 154) dalam bukunya “Psikologi untuk keluarga menyatakan bahwa Keluarga memiliki delapan fungsi”, yaitu:

  1. Fungsi Edukatif. Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam kedudukan ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari, pada saat-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
  1. Fungsi Sosialisasi. Melalui interaksi dalam keluarga anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan, penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak.
  1. Fungsi Protektif. Fungsi ini lebih menitik beratkan dan menekankan kepada rasa aman dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan.
  1. Fungsi Afeksional. Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adalah adanya hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan yang terpenting bagi perkembangan kepribadian anak.
  1. Fungsi Religius

Keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai dengan keyakinan keluarga tersebut.

  1. Fungsi Ekonomis. Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga, sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama.
  1. Fungsi Rekreatif. Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari
  1. Fungsi Biologis. Fungsi ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis keluarga, diantaranya kebutuhan seksual. Kebutuhan ini berhubungan dengan pengembangan keturunan atau keinginan untuk mendapatkan keturunan. Selain itu juga yang termasuk dalam fungsi biologis ini yaitu perlindungan fisik seperti kesehatan jasmani dan kebutuhan jasmani yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan akan mempengaruhi jasmani setiap anggota keluarga.

Bentuk – Bentuk Komunikasi Keluarga

  1. Komunikasi orang tua yaitu suami-istri. Komunikasi orang tua yaitu suami istri disini lebih menekankan pada peran penting suami istri sebagai penentu suasana dalam keluarga. Keluarga dengan anggota keluarga (ayah, ibu, anak).
  1. Komunikasi orang tua dan anak. Komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak dalam satu ikatan keluarga di mana orang tua bertanggung jawab dalam mendidik anaknya. Hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak di sini bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman bersama terhadap sesuatu hal di mana antara orang tua dan anak berhak menyampaikan pendapat, pikiran, informasi atau nasehat. Hubungan komunikasi yang efektif ini terjalin karena adanya rasa keterbukaan, empati, dukungan, perasaan positif, kesamaan antara orang tua dan anak.
  1. Komunikasi ayah dan anak. Komunikasi disini mengarah pada perlindungan ayah terhadap anak. Peran ayah dalam memberi informasi dan mengarahkan pada hal pengambilan keputusan pada anak yang peran komunikasinya cenderung meminta dan menerima. Misal, memilih sekolah. Komunikasi ibu dan anak Lebih bersifat pengasuhan kecenderungan anak untuk berhubungan dengan ibu jika anak merasa kurang sehat, sedih, maka peran ibu lebih menonjol.
  1. Komunikasi anak dan anak yang lainnya. Komunikasi ini terjadi antara anak yang satu dengan anak yang lain. Dimana anak yang lebih tua lebih berperan sebagai pembimbing pada anak yang masih muda. Biasanya dipengaruhi oleh tingkatan usia atau faktor kelahiran. Komunikasi keluarga penting dalam membentuk suatu keluarga yang harmonis, dimana untuk mencapai keluarga yang harmonis, semua anggota keluarga harus didorong untuk mengemukakan pendapat, gagasan, serta menceritakan pengalaman-pengalaman. Komunikasi orang tua dan anak adalah suatu proses hubungan antara orang tua yaitu ibu, ayah dan anak yang merupakan jalinan yang mampu memberi rasa aman bagi anak melalui suatu hubungan yang memungkinkan keduanya untuk saling berkomunikasi sehingga adanya keterbukaan, percaya diri dalam menghadapi masalah. Komunikasi antara orang tua dan anak dalam keluarga merupakan interaksi yang terjadi antara anggota keluarga dan merupakan dasar dari perkembangan anak.

Hambatan Komunikasi Keluarga

Di antara hal yang sangat vital perannya dalam menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga adalah interaksi dan komunikasi yang sehat antara seluruh anggotanya. Suami dan istri harus mampu membangun komunikasi yang indah dan melegakan, demikian pula orang tua dengan anak, serta sesama anak dalam rumah tangga.Banyak permasalahan kerumahtanggaan muncul akibat tidak adanya komunikasi yang aktif dan intensif antara suami dengan istri. Banyak hal yang didiamkan tidak dibicarakan, sehingga menggumpal menjadi permasalahan yang semakin membesar dan sulit diselesaikan. Namun dalam prakteknya, ditemukan beberapa kendala dalam komunikasi antara suami dengan istri. Paling tidak ada tiga kendala dalam membangun komunikasi suami istri, yaitu:

  1. Kendala Pengetahuan

Ini bukan hanya menyangkut ilmu komunikasi, namun lebih penting dari itu adalah pengetahuan yang mendalam tentang pasangan. Semakin kita mengetahui kondisi pasangan kita, akan semakin memudahkan dalam melakukan komunikasi. Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, diperlukan pengenalan sebagaimana kata orang bijak tak kenal maka tak sayang. Maka belajarlah mengenali pasangan hidup masing-masing. Ada karakter yang tidak sama antara rata-rata lelaki dan perempuan dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat. Kebanyakan wanita memiliki kecenderungan yang lebih ekspresif dalam mengungkapkan keinginan dibandingkan lelaki, dan kebutuhan mereka akan komunikasi verbal lebih tinggi dari pada lelaki. Pada sisi yang lain, lelaki lebih cenderung menggunakan potensi akalnya, sedangkan wanita lebih cenderung menggunakan potensi perasaan dalam berkomunikasi. Tentu saja pilihan kosa kata dan pemaknaannya tidak selalu sama persis antara pikiran lelaki dengan perasaan wanita. Kadang mereka menggunakan kosa kata yang sama, akan tetapi memiliki pemaknaan yang berbeda. Jika perbedaan kecenderungan ini tidak dipahami dengan baik, akan bisa menjadi pemicu pertengkaran yang hebat, bahkan konflik yang berkepanjangan antara suami dengan istri. Inilah kendala pertama, banyak orang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang pasangannya. Tidak mengetahui apa yang membahagiakan dan menyakitkan pasangan. Tidak mengetahui tabiat umum perempuan, tidak mengetahui tabiat lelaki. masing-masing memandang pasangan dengan cara pandangnya sendiri, karena tidak mengetahui tabiat pasangannya.

  1. Kendala Pengetahuan

Ada banyak realitas yang menggambarkan betapa kultur masyarakat di sebuah tempat berbeda dengan tempat lainnya. Konstruksi budaya masyarakat yang tercipta dari hasil interaksi antara manusia yang satu dengan lainnya, antara manusia dengan alam, dan respon mereka atas gejala-gejala kehidupan di alam sekitar, telah mempengaruhi corak dan karakter kemanusiaan dalam berbagai sisinya. Bukan hanya warna kulit, postur tubuh, bahasa maupun makanan mereka yang berbeda, akan tetapi cara pandang, pola hidup, hingga cara berkomunikasi dan mengemukakan pendapat serta keinginan, yang juga tidak sama. Setiap keluarga memiliki corak yang tidak sama dalam mendidik anak, tidak sama pula dalam pola komunikasi serta interaksi antara suami dengan isteri. Pada keluarga dimana orang tua membiasakan keterbukaan dan banyak dialog, akan membentuk karakter anak yang mudah berkomunikasi. Namun pada keluarga yang sedikit bicara, banyak menutup diri, akan membentuk pula karakter anak yang tidak bisa mengekspresikan keinginan.

  1. Kendala Keterampilan

Sangat penting bagi kita untuk memiliki keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berbicara, mendengar pembicaraan, merespon secara positif, memahami pembicaraan pasangan, mimik wajah dan ekspresi dalam komunikasi, bisa dipelajari. Namun pembelajaran yang paling cepat adalah mempraktekkan. Mulailah dari diri anda, tidak perlu menunggu pasangan anda memintanya. Ucapkan kalimat yang disenanginya, lakukan perbuatan yang disenanginya. Itu awal keterampilan berkomunikasi.Kendala keterampilan komunikasi ini muncul karena enggan memulai dan enggan melakukan. Sebenarnya seorang suami tahu bahwa istrinya suka dipuji, namun ia enggan melakukan itu. Ia tidak memuji istrinya karena ia menganggap itu perbuatan yang tidak ada gunanya. Padahal sebenarnya pujian kepada istri sangat besar pengaruhnya untuk menguatkan cinta kasih dalam rumah tangga. Sebenarnya istri tahu bahwa suaminya tidak suka kalau ia berbicara dengan nada tinggi, namun selalu saja ia mengulangi. Ini karena ia enggan melakukan.Maka untuk mengatasi kendala keterampilan ini, masing-masing harus membiasakan diri memulai dan melakukan hal terbaik untuk pasangannya. Berlatih romantis, berlatih memilih kata-kata yang menyenangkan perasaan pasangan, berlatih menggunakan gaya bicara yang disukai pasangan dan seterusnya. Tidak ada yang sulit jika mau melakukan, karena ketrampilan itu hanya masalah kebiasaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s