CERPEN

Cerpen

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen adalah kisahan pendek yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Ajip Rosidi (dalam Zen 2006:2) mengatakan bahwa cerita pendek merupakan cerita yang pendek dan merupakan suatu kebulatan ide berdasarkan pendapat tersebut dikatakan bahwa di dalam sebuah cerita pendek terdapat suatu kesatuan yang utuh yang mampu menampilkan cerita yang baik dan menarik dengan isi cerita pendek.

 Setiap karya sastra fiksi mempunyai unsur-unsur yang mendukung karya sastra fiksi tersebut, baik unsur dari dalam sastra itu sendiri (unsur intrinsik) ataupun unsur dari luar (unsur ekstrinsik) karya sastra itu yang secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra.

 Akutagawa Ryunosuke merupakan salah satu sastrawan yang sangat terkenal yang telah banyak memberikan sumbangan dalam dunia sastra berupa karya sastra fiksi. Salah satu dari hasil karya Ryunosuke adalah  cerpen yang berjudul Imogayu.

 Cerpen Imogayu dipublikasikan pada tahun 1916 dalam sebuah majalah di Jepang. Cerpen Imogayu mengandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang turut membangun cerpen Imogayu. Beberapa unsur intrinsik yang akan dbicarakan adalah tema, plot/ alur cerita, tokoh, dan setting. Sedangkan unsur ekstrinsiknya adalah biografi pengarang.

Cerpen Sebagai Suatu Genre Sastra

Hakikat sastra merupakan suatu karya  sastra  kreatif  imajin Otonom, yang menimbulkanbahasa tulis yang puitik danyang  Khas,alat komunikasi yangbersifat universal, baik  ditinjau dari proses  penciptaan, maupun eksistensinya. Sastra juga bersifat   personal,  penggarapannya menuruti subyektivitas  pengarangnya  sehingga dapat  menimbulkan  suatu  efek  tertentu  di  dalam  suatu  karya  sastra  (Sumardi, dkk, 1990:198 dan Atmazaki, 1990:15-19). Dengan adanya hakikat sastra tersebut,maka hak ini  juga Berhbungan dengan salah satu jenis fiksi yaitu berupa pendek atau  yang lebih populer dengan akronim cerpen yang  bersifat   rekaan,  khayalan,pendek,bahasa yang indah,mengandung  nilai  estetika, mengesankankan dan enak dibaca, serta sesuatu yang tidak   ada dan terjadi sungguh-sungguh, sehingga ia tak  perlu  dicari kebenarannya pada dunia nyataWalaupun  berupa khayalan tetapi cerpen merupakan hasil  Penghayatan  dan hasilperenungan secara intens,  perenungan atas  hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan dengan  penuh kesadaran tanggung jawab. Selain  itu  merupakan   karya imajinatif   yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab  darisegi kreativitas sebagai karya seni. Cerita fiksi itu  merupakankarya  perorangan dari para pengarang yang mengangkat  suatupersoalan di dalam cerita.

Ada persoalan cerita yang masih selalu di ulang-ulang dan selalu      relevan dan ada pula persoalan baru yang muncul dari jaman  ke  jaman  dengan memadukan gagasan dan perasaan  penulis  mengenaikehidupan ini dalam penyajian gerak dan  bukan  pernyataan yangbersifat umum (Efendi, 1999:1-7,Nurgiyanto,1995  2-3, dan waluyo,1994 :1-2). Menurut Agus  (1989:36)  cerpen adalah  singkatan  dari  cerita  pendek.Dalam bahasa inggris disebit ‘Short Story’  Cerita  pendek   merupakancerita rekaan atau cerita imajinatif  yang pendek yang  membatasi   jumlahkata dalam cerpen kurang darisepuluh  ribu  kata, dan      biasanya  cerpen itu dapat diselesaikan membacanya  dalam waktu yang  lebih singkat.Sejalan dengan itu Satyagraha, (dalam semi ,1993 :34)  menyatakan  bahwa cerita pendekadalah  karakter yang   dijabarakan lewat rentetan kejadian dari pada kejadian-kejadian   itu  sendiri atau satu persatu. Apa  yang terjadi  di dalamnya  lazim merupakan suatu pengalaman atau  penjelajahan  seorang      pengarang.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan cerpen adalah merupakan cerita rekaan, fiktif, imajinatif yang relatif  pendek, yang merupakan rentetan, kejadian-kejadian,  pengalaman  peristiwa  sehari-hari yang di alami seorang pengarangnya, dan  jumlah katanya kurang dari sepuluh ribu kata, dan  membacanya  dapat diselesaikan dalam waktu yang lebi singkat.

Struktur Cerpen

Struktur  cerpen  menurut  pendapat  ( Kosasih  2004:  260).  Di  bentuk  oleh  unsur-unsur  berikut:  (1)  tema  (2)  alur  (3)  latar  (4)  penokohan  (5)  sudut  pandangatau  poin  of  view  (6)  amanat  (7)  gaya  bahasa. Untuk  lebihh jelas  perhatikan  uraian  struktur  cerpen  berikut  :

  1. Tema

Tema  merupakan  inti  atau  ide  sebuah  cerita.  Dari  ide  dasar  itulah  kemudian  cerita  dibangun  oleh  pengarang  dengan  memanfaatkan  unsur-unsur  instrinsik  seperti  Plot,  Penokohan,  dan Latar.  Tema  merupakan  pangkal  tolak  pengarang  dalam  menceritakan  dunia  rekaan  yang  diciptakan. Tema  menyangkut  segala  persoalan  dalam  kehidupan  manusia  baik  itu  berupa  masalah  kemanusiaan,  kekuasaan  kasih  saying,  kecemburuan,  dan  sebagainya.  Tema  jarang  ditulis  tersurat  oleh  pengarangnya.

  1. Alur

Alur  (plot)  merupakan  sebagian  dari  unsur  instrinsik  suatu  karya  sastra.  Alur  merupakan  pola  pengembangan  cerita  yang  terbentuk  oleh  hubungan  sebab  dan  akibat.  Pola  suatu  cerita  cerpen  tidaklah  seragam.

  1. Latar

Latar  (setting)  merupakan  salah  satu  unsur  instrinsik  karya  sastra  terliput  dalam  latar,  adalah  keadaan,  tempat,  waktu  dan  budaya.  Tempat  yang  dirujuk  dalam  sebuah  cerita  bisa  merupakan  suatu  yang  factual.  Atau  bisa  pula  yang  imajiner.

  1. Penokohan

Penokohan  merupakan  salah  satu  unsur  sastra,  disamping  tema,  plot,  seting,  sudut  pandang  dan  amanat.  Penikohan  adalah  cara  pengarang  menggambarkan  tokoh-tokoh  dalam  cerita.

  1. Sudut pandang  atau  poin  of  view

Sudut  pandang  atau  poin  of  view  adalah  posisis  pengarang  dalam  membacakan  cerita.

  1. Amanat

Amanat  merupakan  ajaran  moral  yang  hendak  disampaikan  pengarang  kepada  pembaca  melalui  karyanya  itu.  Tidak  jauh  berbeda  dengan  cerita  lainnya,  amanat  dalam  cerpen  akan  disampaikan  rapi  dan  disembunyikan  pengarang  dalam  keseluruhan  isi  cerita.  Karena  itu,  untuk  menemukannya,  tidak  cukup  membaca  dua  atau  tiga  paragraf,  melainkan  harus  menghabiskan  sampai  tuntas.

  1. Gaya Bahasa

Dalam  cerita  pengunaan  bahasa  berfungsi  untuk  menciptakan  suatu  nada  atau  suasana  persuasif  serta  merumuskan  dialog  yang  mampu  memperhatikan  hubungan  dan  iteraksi  antara  sesame  tokoh.  Kemampuan  penulis  mengunakan  bahasa  secara  cermat  dapat  menjelmakan  suatu  suasan  yang  berterus  terang  atau  satiris,  simpatik  atau  satiris,  simpatik  atau  menjengkelkan  objek  atau  emosional.  Bahsa  dapat  menimbulkan  suasana  yang  tepat  bagi  adegan  yang  seram,  adegan  cinta,  ataupun  peperangan,  keputusan,  maupun  harapan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s