Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesama (Nurhadi 2003: 60). Pembelaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.(Rusman2014: 218)

Abdurrahman dan Bintoro  (dalam Nurhadi, 2003: 6) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Roger dan Johnson (dalam Lie, 1999: 30) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap coopartive learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :

  1. Saling ketergantungan positif
  2. Tanggungjawab perseorangan
  3. Tatap muka
  4. Komunikasi antar anggota
  5. Evaluasi proses kelompok

Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa (Usman, 2002 : 30).

Jadi pola belajar kelompok dengan cara kerjasama antar siswa dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan kreativitas siswa, pembelajaran juga dapat mempertahankan nilai sosial bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan. Ketergantungan timbal balik mereka memotivasi mereka untuk dapat bekerja lebih keras untuk keberhasilan mereka, hubungan kooperatif juga mendorong siswa untuk menghargai gagasan temannya bukan sebaliknya. Adapun karakteristik pembelajaran kooperatif adalah :

  1. Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki keterampilan tinggi, sedang dan rendah.
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
  4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu (Ibrahim dkk, 2000 : 6).

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantungan satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya semakin beragam (Ibrahim, dkk, 2000: 9).
Sedangkan menurut  Lungren (1994: 120) dalam (Ibrahim, dkk. 2000: 18) ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi belajar yang rendah, yaitu:

  1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
  2. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
  3. Memperbaiki sikap terhadap IPS dan sekolah
  4. Memperbaiki kehadiran
  5. Angka putus sekolah menjadi rendah
  6. Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
  7. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
  8. Konflik antar pribadi berkurang
  9. Sikap apatis berkurang
  10. Pemahaman yang lebih mendalam
  11. Motivasi lebih besar
  12. Hasil belajar lebih tinggi
  13. Retensi lebih lama
  14. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

A. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh  Aronson dkk di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slaven dkk di Universitas Jhon Hopkins.  Dalam terapan tipe jigsaw, siswa dibagi menjadi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli (Ibrahim, dkk. 2000: 52)

Menurut  Killen (1996: 74) dalam belajar kooperatif tipe jigsaw, secara umum siswa dikelompokkan secara heterogen dalam kemampuan. Siswa diberi  materi yang baru atau pendalaman dari materi sebelumnya untuk dipelajari. Sedangkan menurut Lie (1993: 73), secara garis besar strategi jigsaw dikategorikan sebagai kelompok pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, yang terdiri atas empat sampai enam orang siswa secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertangung jawab secara mandiri.

Strategi jigsaw memungkinkan siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, dan mengelola informasi yang didapat dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya. (Rusman,2008: 203)

Langkah- langkah strategi jigsaw menurut Stepen,Sikes, dan Snapp (dalam Said, 2015: 272) sebagai berikut:

  1. Dibuat kelompok, setiap kelompok beranggotakan 3 sampai 5 siswa.
  2. Setiap anggota kelompok diberikan bagian topik materi yang berbeda.(Jika setiap kelompok terdiri dari 5 siswa, maka ada 5 bagian materi yang berbeda dari setiap siswa).
  3. Masing-,masing anggota kelompok membaca untuk menggali informasi, sehingga siswa memperoleh informasi dari topik permasalahan tersebut.
  4. Siswa yang telah memperoleh informasi dari topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok yang dan mendiskusi mengenai topik tersebut.(Disebut tim ahli).
  5. Setelah selesai diskusi, kelompok ahli kembali ke kelompok asal, hasil yang dapat dijelaskan atau diajarkan kepada anggota tim asli dan tiap anggota lainnya menyimak dengan seksama.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  7. Guru membuat kuis. Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
  8. Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa :

  1. Menyiapkan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi,

Beberapa aspek dari tujuan dan motivasi siswa tidak berbeda untuk pembelajaran model jigsaw. Guru yang berhasil memulai pelajaran dengan menelaah ulang, menjelaskan tujuan mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan menunjukkan bagaimana pelajaran itu terkait dengan pelajaran sebelumnya.

  1. Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks atau bentuk-bentuk lain,

Menyajikan informasi verbal secara jelas kepada siswa dan memberikan petunjuk bagaimana melakukannya. Petunjuk itu tidak akan diulang di sini. Bagaimanapun juga, penting untuk menggarisbawahi suatu perhatian singkat tentang penggunaan buku teks.

  1. Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa

Dalam pembelajaran kooperatif, guru harus hati-hati dengan cara menilai yang diterapkan di luar sistem penilaian mingguan yang baru diuraikan di atas. Konsisten dengan konsep struktur penghargaan kooperatif adalah penting bagi guru untuk menghargai hasil kelompok dua-duanya hasil akhir dan perilaku kooperatif yang menghasilkan suatu solusi dilema ini dengan memberikan dua evaluasi bagi siswa, satu untuk upaya kelompok dan satu untuk setiap sumbangan seseorang individu.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan kekurangan, di antara kelebihannya, yaitu:

  1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain
  2. Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
  3. Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya
  4. Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif
  5. Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain (Ibrahim, dkk. 2000 : 70).

Sedangkan kekurangannya, adalah :

  1. Membutuhkan waktu yang lama
  2. Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya (Ibrahim, 2000 : 71).

Pembelajaran kooperatif jenis Jigsaw adalah satu jenis pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Jigsaw menggabungkan konsep pengajaran pada teman sekelompok atau teman sebaya dalam usaha membantu belajar. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.

Model jigsaw pada hakekatnya model pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa. Siswa mempunyai peran dan   tanggung jawab besar dalam pembelajaran. Guru  berperan sebagai fasilisator dan motifator. Tujuan model Jigsaw ini adalah untuk mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif dan penguasaan pengetahuan secara mendalam  yang tidak mungkin diperoleh siswa  apabila siswa mempelajari materi secara individual. Dalam model jigsaw ini siswa dibagi menjadi dua kelompok  yaitu “kelompok awal” dan “kelompok ahli”.  Setiap siswa  yang ada dalam” kelompok awal” mengkhususkan diri pada satu bagian dalam sebuah unit pembelajaran. Siswa dalam “kelompok awal”  ini kemudian dibagi lagi untuk masuk kedalam “kelompoka ahli” untuk mendiskusikan materi yang berbeda. Siswa kemudian kembali ke “kelompok awal”  untuk mendiskusikan materi hasil “kelompok ahli” pada siswa “kelompok awal”. Dalam konsep ini siswa harus bisa mendapat kesempatan dalam proses belajar supaya semua pemikiran siswa dapat diketahui.

Pembelajaran model Jigsaw menuntut setiap siswa untuk bertanggung jawab atas ketuntasan bagian pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok lainnya.

Jigsaw adalah salah satu teknik cooperative learning yang pertama kali diterapkan oleh  Aronson tahun 1971 dan dipublikasikan tahun 1978. Pada awalnya penelitiannya kelas jigsaw ini dipakai untuk tujuan agar mengurangi rasa kompetisi pembelajar dan masalah ras yang terdapat disebuah kelas  yang berada di Austin, Texas. Kota texas ini termasuk mengalami masalah rasis yang sangat parah, dan itu pun memunculkan  intervensi dari sekolah – sekolah untuk menghilangkan masalah tersebut.(Rusman, 2014: 217)

Di dalam suatu kelas banyak pembelajaran  Amerika keturunan Afrika, keturunan Hispanik (latin), dan pembelajaran kulit putih Amerika untuk  yang pertama kalinya berada dalam sebuah kelas bersama-­sama. Situasi semakin memanas dan mangancam lingkungan  belajar mereka. Dan pada tahun 1971 Aronson dan beberapa lulusan pembelajaran lainnya menciptakan  jigsaw dan mencoba untuk menerapkannya didalam kelas. Dan usaha keras ini berhasil dengan sukses, pembelajar  yang pada awalnya kurang berkomunikasi mulai berkomunikasi dan mulai bekerjasama.

Eksperimen ini membentuk kelompok pembelajaran (kelompok jigsaw) dimana tiap pembelajaran tergantung kepada anggota kelompoknya untuk mendapatkan informasi  yang diperlukan untuk lulus dalam ujian. Tanpa memandang ras, mereka digabungkan menjadi sebuah grup dan wajib berkerjasama diantara anggotanya agar mencapai sukses akademik. Ketika dibandingkan dengan kelas tradisional dimana pembelajar-­pembelajar bersaing secara individu, pembelajar-­pembelajar di dalam kelas.

Model pembelajaran jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.

B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing

Snowball secara etimologi berarti bola salju, sedangkan throwing artinya melempar. Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Dalam pembelajaran Snowball Throwing, bola salju merupakan kertas yang berisi pertanyaan yang dibuat oleh siswa kemudian dilempar kepada temannya sendiri untuk dijawab. Menurut Bayor (2010), Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran aktif (active learning) yang dalam pelaksanaannya banyak melibatkan siswa. Peran guru di sini hanya sebagai pemberi arahan awal mengenai topik pembelajaran dan selanjutnya penertiban terhadap jalannya pembelajaran.

Sintaknya snowball throwing adalah informasi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok , bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyimpulan, refleksi dan evaluasi.(Ngalimun, 2012: 175)

Menurut Saminanto (2010: 37) “Model Pembelajaran Snowball Throwing disebut juga metode pembelajaran gelundungan bola salju”. Model pembelajaran ini melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari siswa lain dalam bentuk bola salju yang terbuat dari kertas, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok.

Snowball Throwing adalah paradigma pembelajaran efektif yang merupakan rekomendasi UNESCO, yakni: belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001:5).

Snowball throwing adalah suatu model pembelajaran yang diawali dengan pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. (Arahman, 2010: 3).

Model pembelajaran snowball throwing menurut Kisworo (dalam Mukhtari, 2010: 6) adalah suatu model pembelajaran yang diawali dengan pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Sedangkan menurut Komalasari, 2010) Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu tipe model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini menggali potensi kepemimpinan murid dalam kelompok dan keterampilan membuat-menjawab pertanyaan yang di padukan melalui permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju.

Suprijono (2009: 128) dan Saminanto (2010: 37) mengemukakan langkah-langkah dalam pembelajaran model snowball throwing sebagai berikut: 1)    Guru menyampaikan materi yang akan disajikan, dan KD yang ingin dicapai. 2)     Guru membentuk siswa berkelompok, lalu memanggil masing-masing ketua     kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3)     Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4)     Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5)      Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 5 menit. 6)      Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7)      Evaluasi 8)      Penutup

Model Snowball Throwing mempunyai beberapa kelebihan yang semuanya melibatkan dan keikutsertaan siswa dalam pembelajaran. Kelebihan dari model snowball throwing adalah : 1.      Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa lain.  2.    Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir karena diberikesempatan utk membuat soal dan diberikan pada siswa lain.  3.      Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temannya seperti apa. 4.      Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran  5.      Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam    praktek. 6.  Pembelajaran menjadi lebih efektif. 7.     Ketiga aspek yaitu aspek koknitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai

Disamping terdapat kelebihan tentu saja model Snowball Throwing juga mempunyai kekurangan. Kelemahan dari model  ini adalah           :

  1. Sangat  bergantung  pada kemampuan siswa  dalam memahami materi sehingga apa yang dikuasai siswa hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari soal yang dibuat siswa biasanya hanya seputar materi yang sudah dijelaskan atau seperti contoh soal yang telah diberikan.
  2. Ketua kelompok yang  tidak  mampu  menjelaskan  dengan  baik  tentu  menjadi  penghambat bagi anggota lain untuk  memahami  materi sehingga diperlukan waktu yang  tidak  sedikit  untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran.
  3. Tidak ada kuis individu maupun penghargaan kelompok sehingga siswa saat berkelompok kurang  termotivasi untuk bekerja sama. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberiaan kuis individu dan penghargaan kelompok
  4. Memerlukan waktu yang panjang
  5. Murid yang nakal cenderung untuk berbuat onar
  6. Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh murid.

Akan tetapi kelemahan dalam penggunaan metode ini dapat tertutupi dengan cara:

  1. Guru menerangkan terlebih dahulu materi yang akan didemontrasikan secara singkat dan jelas disertai dengan aplikasinya
  2. Mengoptimalisasi waktu dengan cara memberi batasan dalam pembuatan kelompok dan pembuatan pertanyaan
  3. Guru ikut serta dalam pembuatan kelompok sehingga kegaduhan bisa diatasi
  1. Memisahkan group anak yang dianggap sering membuat gaduh dalam kelompok yang berbeda
  2. Tapi tidak  menutup  kemungkinan  bagi  guru  untuk  menambahkan pemberiaan kuis individu dan penghargaan kelompok

DAFTAR PUSTAKA

 Abdurrahman, Mulyono.  2001. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

 Ahmadi, Amri, Elisah.  2011. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta:    Prestasi Pustaka.

Arikunto, Suharsimi.  2001. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif.Jakarta: Alvabeta.

Asnati.  2014. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Dengan Menggunakan Media Power Point Untuk meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa SN 06 Curup Selatan.Tesis. FKIP Universitas Bengkulu.

Buchari. 1985. Psikologi Pendidikan. Jakarta:  Aksara Baru.

Dimyati,  Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Gie. 1995. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta: Liberti.

Hamalik.  2003. Proses Belajar  Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Jihad, Haris. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Presindo.

Miarso, Y. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Diknas.

Ngalimun. 2012.  Strategi dan Model Pembelajaran,Banjarmasin: Aswaja.

Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Pers.

Said, Budimanjaya. 2015. 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligences. Jakarta: Kencana.

Sardiman. 2008. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sardiman. 2014. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset

Suryosubroto. 2009.  Proses Belajar mengajar di Sekolah. Jakarta:  Rineka Cipta.

Susanto. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar,Jakarta: Kencana

Thobroni. 2015. Bb Cc Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Trianto.  2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Warsono, Yonto. 2013. Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Winataputra, dkk. 2007. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s