Konsep Penyakit Katarak

Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh (Sidarta, 2006). Lebih lanjut menurut Ilyas, (2001) Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi lensa. Sedangkan menurut  Mansjoer, A, (2001) Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif.

Anatomi Lensa mata

Mata adalah indra penglihatan dibentuk untuk menerima rangsangan, berkas-berkas cahaya pada retina dengan perantara serabut-serabut nervous options mengalihkan rangsangan ini kepusat penglihatan pada otak, bagian mata yang berfungsi memfokuskan rangsangan cahaya keretina adalah lensa (Pearce, 2002).

Fisiologi Lensa Mata

Lensa mata adalah sebuah benda transparan bikonveks (cembung depan belakang) yang dipertahankan pada tempatnya oleh ligamen siliaris atau zonula zinni, organ fokus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya, yang terpantul. Jadi lensa mata berbentuk bikonveks tidak mengandung pembuluh darah dengan diameter 9 mm ketebalan 4 mm. Ketebalan tersebut meningkat dari usia 50 tahun dan mencapai 5 mm pada usia 90 tahun. Puncak lengkungan anterior dan posterior lensa, disebut kutup anterior dan kutup posterior.

Etiologi

  1. Usia lanjut
  2. Tejadi secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin
  3. Kelainan sistemik atau metabolik (diabetes melitus)
  4. Genetik dan gangguan perkembangan
  5. Rokok dan konsumsi alkohol

Penyebab pertama katarak adalah proses penuaan. Anak dapat mengalami katarak yang biasanya merupakan penyakit yang diturunkan, peradangan didalam kehamilan, keadaan ini disebut sebagai katarak kongenital. Penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti diabetes melitus dapat menyebabkan timbulnya kekeruhan lensa yang dapat menyebabkan katarak komplikata (Ilyas, 2003).

Patofisilogi

Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, bentuk kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar.Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, diperifer ada korteks dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transportasi, perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubaha kimia dan protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalan cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terja disertai influks air kedalam lensa.

Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu tranmisi sinar. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda, dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistematis, seperti DM, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Katarak dapat bersifat congenital dan dapat diidentifikasi awal, karena bila tidak dapat didiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, DM, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama

Gejala Klinis

Gejala klinik pasien katarak antara lain :

  1. Rasa nyeri pada mata
  2. Penglihatan kabur
  3. Rasa silau karena terjadi pembiasan tidak teratur oleh lensa yang keruh
  4. Penglihatan akan berkurang secara perlahan
  5. Pada pupil terdapat bercak putih
  6. Bertambah tebal nukleus dengan berkembangnya lapisan korteks lensa.

Katarak hipermiatur akan menimbulkan penyakit, mata menjadi merah disertai rasa sakit yang kemudian akan berakhir dengan kebutaan. Secara klinis proses ketuaan sudah tampak dalam pengurangan kekuatan akomodasi lensa, akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang dimanifikasikan dalam bentuk presbiopi (RSUD Dr. Soetomo, 2001).

Selain itu gejala berupa keluhan penurunan tajam penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Penglihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan-akan tampak benar-benar putih, sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif (-). Bila dibiarkan akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis

Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit katarak ini adalah sebagai berikut:

  • Glaukoma

Kelainan yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intra okuler didalam bola mata, sehingga lapangan pandang mengalami gangguan visus mata menurun.

  • Kerusakan retina/ablasi retina

Ablasi ini dapat terjadi setelah pascabedah, akibat ada robekan pada retina, cairan masuk kebelakang dan mendorong retina atau terjadi penimbunan eksudat dibawah retina sehingga retina terangkat.

  • Infeksi

Ini bisa terjadi setelah pascabedah karena kurangannya perawatan yang tidak adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Hennis, et. Al 2004. Faktor Pendukung Katarak. Jakarta

Ilyas, S. 2000. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

Ilyas, S. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: EGC

Pearce, 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta

RSUD Dr. Soetomo, 2001. Penyakit Katarak Senelis.

Soeharjo, 2004. Kebutaan Katarak. Faktor-Faktor Resiko, Penanganan Klinis, dan Pengendalian. FKUGM. Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s