Pekerja Sosial

Menurut International Federation of Social Worker, Pekerja sosial adalah sebuah profesi yang mendorong perubahan sosial, memecahkan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan, memberdayakan dan membebaskan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Menurut Zastrow, Pekerja sosial merupakan sebuah aktivitas profesional dalam menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan untuk menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yag kondusif dalam mencapai tujuannya.

Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa pekerjaan sosial merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkepentingan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Pekerja Sosial sangat dekat dengan masyarakat karena bahan cakupannya adalah permasalahan dalam masyarakat, namun sangat disayangkan pekerjaan sosial atau yang sering disebut dengan peksos sangat kurang dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Hal-hal yang menyebabkan Peksos kurang dikenal adalah pertama karena Istilah yang dipakai kurang spesifik dan kurang tegas sebab semua orang yang bergerak dalam bidang kemanusiaan juga menyebut dirinya peksos, kedua karena stigma atau paradigma masyarakat yang menganggap bahwa pekerjaan sosial merupakan pekerjaan sukarela yang tidak dibayar sehingga muncul kesan kurang dihargai dan tidak diminati masyarakat, dan yang ketiga bahwa profesi praktiknya peksos tergantikan oleh profesi lain seperti oleh psikolog, dll.

Komponen Dasar Pekerja Sosial

Pekerja sosial merupakan suatu profesi, Menurut Charles Sastro komponen dasar pekerja sosial sehingga dapat dikatakan sebagai profesi pekerjaan sosial adalah:

  1. Knowledge : Pemahaman teoritis ataupun praktis yang terkait dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan, belajar, seni, yang melibatkan penelitian maupun praktek serta pengembangan keterampilan. Seorang peksos dalam studinya tidak hanya mempelajari satu disiplin ilmu saja tapi beberapa disiplin ilmu yang saling terkait dengan profesi peksos, seperti mempelajari psikologi, sosiologi,logika,dsb
  2. Skill : kemampuan, keahlian, atau kemahiran yang diperoleh dari praktek dan pengetahuan, seorang peksos memiliki kemahiran dalam komunikasi seperti dalam melakukan assassment dan intervensi.
  3. Value : Sesuatu yang dianggap benar.

Peran Pekerja Sosial

Pendapat Jim (2012) peran-peran pekerjaan sosial meliputi:

Peran Fasilitator

Peranan fasilitator mengandung tujuan untuk memberikan dorongan semangat atau membangkitkan semangat kelompok sasaran atau klien agar mereka dapat menciptakan perubahan kondisi lingkungannya, antara lain:

  • Animasi sosial, yang bertujuan untuk mengaktifkan semangat, kekuatan, kemampuan sasaran yang dapat dipergunakan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam bentuk suatu kegiatan bersama, sedangkan dalam kondisi ini seorang pekerja sosial harus memiliki antusiasme yang tinggi yang dapat menciptakan terlaksananya kegiatan-kegiatan yang telah direncakan bersama klien atau kelompok sasaran. Antusiasme ini dapat diikat dengan komitmen bersama-sama kelompok sasaran.
  • Mediasi dan negosiasi, peran ini dapat dimanfaatkan untuk meredam dan menyelesaikan ketika terjadi konflik internal maupun eksternal pada kelompok sasaran. Seorang pekerja sosial dalam hal ini harus bersikap netral tanpa memihak satu kelompok tertentu.
  • Support, peran ini berarti memberikan dukungan moril kepada kelompok sasaran untuk terlibat dalam struktur organisasi dan dalam setiap aktivitas-aktivitas yang sedang berlangsung dan yang akan berlangsung dimasa datang.
  • Pembangunan Konsensus, peran ini meliputi upaya-upaya yang menitik beratkan pada tujuan bersama, mengidentifikasikan kepentinggan bersama dan upaya-upaya pemberian bantuan bagi pencapaian konsensus yang dapat diterima semua masyarakat.
  • Memfasilitasi Kelompok, peranan ini akan melibatkan peranan fasilitatif dengan kelompok, bisa sebagai ketua kelompok atau bisa juga sebagai anggota kelompok

Peran Edukasi. 

  • Peran ini melibatkan peran aktif pekerja sosial didalam proses pelaksanaan semua kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan bersama kelompok sasaran sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dalam konteks ini dapat diwujudkan berupa pelatihan-pelatihan ketrampilan, misalnya: pelatihan tatacara pengambilan keputusan, pelatihan agenda rapat atau mengelola rapat, pelatihan administrasi surat-menyurat dan pelatihan pemanfaatan waktu luang yang mereka miliki.
  • Peningkatan Kesadaran, peran ini berarti membantu orang untuk mengembangkan pandangan tentang suatu alternatif atau beberapa alternatif dalam tataran kepentingan personal dan politis.
  • Memberikan Informasi, peran ini berarti memberiakn informasi tentang program-progam yang ada di masyarakat tetapi dengan hati-hati karena terdapat variasi kehidupan sosial di masyarakat, informasi tersebut berupa sistem sumber eksternal, sumber dana , sumber ahli, berbagai petunjuk pelaksanaan program, presentasi audio visual dan pelatihan-pelatihan
  • Mengkonfrontasikan, peran ini berarti keinginan kelompok masyarakat yang positif sedangkan kelompok lain berkeinginan negatif, jadi keduanya harus dikonfrontasikan untuk mencapai konsesus, tetapi harus diingat ini pilihan terakhir tanpa kekerasan.
  • Pelatihan, peran ini berarti mencari dan menanalisa sumber-sumber dan tenaga ahli yang diperlukan dalam pelatihan.

Peran Representatif

Dalam peran ini pekerja sosial bertindak sebagai enabler atau sebagai agen perubahan, antara lain membantu klien menyadari kondisi mereka, mengembangkan relasi klien untuk dapat bekerja sama dengan pihak lain (networking) dan membantu klien membuat suatu perencanaan.

  • Mendapatkan Sumber, peranan ini berarti memanfaatkan sistem sumber yang ada dalam masyarakat dan di luar masyarakat.
  • Advokasi, peranan ini berarti mewakili kepentingan-kepentingan klien berupa dengan pendapat, lobbying dengan para politis/pemegang kekuasaan, membentuk perwakilan di pemerintah lokal atau pusat dan membela klien di pengadilan.
    Memanfaatkan Media Massa, peranan ini untuk memperjelas isu tertentu dan membantu mendapatkan agenda publik.
  • Hubungan Masyarakat, peranan ini berati memahami gambaran-gambaran proyek-proyek masyarakat dan mempromosikan gambaran tersebut ke dalam konteks yang lebih besar, melalui publikasi agar masyarakat tergerak terlibat dalam proyek tersebut dan menarik simpati dukungan dari pihak lain.
  • Jaringan Kerja (Networking), peranan berarti mengembangkan relasi dengan berbagai pihak, kelompok dan berupaya mendorong mereka untuk turut serta dalam upaya perubahan.
  • Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman, peranan ini dilakukan dalam kegiatan seperti keterlibatan aktif dalam pertemuan-pertemuan formal maupun non formal seperti: konfrensi-konfrensi, penulisan jurnal, surat kabar, seminar dll.

Peranan Teknis

  • Pengumpulan dan Analisis Data, peranan ini berarti sebagai peneliti sosial, dengan memanfaatkan berbagai metodologi penelitian ilmu pengetahuan sosial untuk mengumpulkan dan menganalisa data serta mempresentasikannya dengan baik.
  • Menggunakan Komputer, peranan ini berarti mampu menggunakan komputer dengan tujuan untuk penyusunan proposal, rancangan penelitian, analisis data, penyunan laporan keuangan, membuat selebaran, spanduk, leaflet, surat menyurat
  • Presentasi Verbal dan Tertulis, peranan ini berarti harus mampu mengekspresikan pikiran-pikiran, tindakan-tindakan secara langsung dan dalam bentuk tulisan.
  • Management, peranan ini berarti bertanggung jawab untuk mengelola program kegiatann yang telah dibuatnya.
  • Kode Etik Profesi Pekerja Sosial

Dalam menjalankan profesinya seorang pekerjaan sosial selain dilandasi oleh perananan dan nilai maka pekerja sosial juga wajib menjunjung tinggi Kode Etik Profesi antara lain :

  1. Pekerja sosial mengutamakan tanggungjawab melayani kesejahteraan individu atau kelopok, yang meliputi kegiatan perbaikan kondisi-kondisi sosial.
  2. Pekerja sosial mendahulukan tanggungjawab profesinya ketimbang kepentingan-kepentingan pribadinya.
  3. Pekerjaan sosial tidak membedakan latar belakang keturunan, warna kulit, agama, umur, jenis kelamin, warganegara serta memberikan pelayanan dalam tugas-tugas serta dalam praktek-praktek kerja.
  4. Pekerjaan sosial melaksanakan tanggung jawab demi mutu dan keluasan pelayanan yang diberikan. Menghargai dan mempermudah partisipasi kelayan.
  5. Mengahargai martabat dan harga diri kelayan.
  6. Menerima kelayan apa adanya.
  7. Menerima dan memahami bahwa setiap orang itu adalah unik.
  8. Tidak menghakimi sikap kelayan.
  9. Memahami apa yang dirasakan orang lain/empati.
  10. Menjaga kerahasian kelayan.
  11. Tidak menghadiahi kelayan dan tidak pula menghakimi
  12. Pekerja sosial harus sadar akan keterbatan-keterbatasan yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M.2005. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta

Bungin, Burhan. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif (Komunikasi, ekonomi, Kebijakan Publik, Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya). Jakarta: Kencana Pranada Group.

Depsos. 2008. UU.RI. No 4 tahun 1997 Tentang  penyandang cacat. Jakarta: Depsos

Depsos. 2003. Pedoman Umum Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Jakarta: Depsos RI

Fatimah, E. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: CV Pustaka Setia

Rohim, Syaipul. 2009. Teori komunikasi (perspektif, ragam dan aplikasi). Jakarta: Renike Citra

Widjaj, AW. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar  Studi. Jakarta : Rineke Cipta

Yusuf . 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosda.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s