Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan melalui kata- kata (bahasa) baik yang diucapkan secara lisan maupun di tulis. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata (bahasa) adalah alat atau symbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk saling berespon secara langsung.

Kata-kata (bahasa) sebagai suatu sistem simbol dapat dibayangkan sebagai kode, yang kita gunakan untuk membentuk pesan-pesan verbal yang akan disampaikan. Dalam mempelajari interaksi verbal dan bahasa, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, diantaranya :

  1. Kata-kata kurang dapat menggantikan perasaan atau pikiran kompleks yang ingin kita komunikasikan. Oleh karenanya, kata-kata hanya dapat mendekati makna yang ingin kita sampaikan.
  2. Kata-kata hanyalah sebagian dari sistem komunikasi kita. Dalam komunikasi yang sesungguhnya, kata-kata selalu disertai pesan-pesan non- verbal. Oleh karenanya, pesan-pesan merupakan kombinasi isyarat-isyarat verbal dan non-verbal, dan efektivitasnya bergantung pada bagaimana kedua macam isyarat ini dipadukan.
  3. Bahasa adalah institusi Bahasa adalah bagian dari budaya kita dan mencerminkan budaya tersebut. Pandanglah bahasa dasar suatu konteks sosial, selalu mempertimbangan implikasi sosial dari pengguna bahasa.

Kedudukan kata-kata sangat penting ketika partisipan dalam komunikasi tersebut mulai mengirimkan maupun menerima pesan. Terdapat tiga dimensi yang terkandung dalam pesan verbal, yaitu:

Bahasa petunjuk/perintah dan bahasa non-petunjuk/perintah (Directive and non-directive).

Salah satu dimensi bahasa yang terpenting adalah kualitas dari bentuk bahasa perintah dan non-perintah pada tingkat dimana bahasa yang digunakan memerintahkan kepada seseorang yang menggunakannya untuk memusatkan perhatian, melihat ataupun merespon stimuli tertentu. Bahasa perintah dan non-perintah ini sangat berperan ‘mengiringi’ orang yang bersangkutan ketika akan menentukan sikap dan tindakannya.

Berbicara langsung maupun tidak langsung (Direct and indirect speech).

Maksud dari bicara secara langsung adalah suatu cara bicara dimana seseorang secara langsung mengajukan atau mengutarakan pertanyaan tanpa mengindahkan beberapa hal yang mungkin akan dapat berdampak kurang baik baginya. Lain halnya pada cara bicara yang tidak langsung pada maksud tertentu yang ingin disampaikan, biasanya dalam suatu aktivitas komunikasi seseorang akan berusaha untuk menarik simpati terlebih dahulu dengan orang yang ingin di ajak bicara. Cara bicara dalam bentuk semacam ini memungkinkan pihak yang berkomunikasi akan dapat melakukan “bahasa pengantar” dalam memulai suatu hubungan.

Salah satu fungsi cara bicara tidak langsung adalah untuk mengekspresikan keinginan tanpa harus menghina atau menyakiti orang lain. Selain itu bicara dengan cara ini memungkinkan seseorang dapat melontarkan pujian dengan cara yang lebih dapat di terima di lingkungan setempat dan juga melalui bentuk bahasa ini, akan dapat membantu seseorang untuk menyatakan sikap tidak setuju tanpa harus menunjukkan sikap secara “begitu terbuka” dengan ketidaksetujuannya.

Bahasa konotatif dan denotatif (konotative and denotative).

Biasanya bahasa konotatif dan denotative disebut dengan bahasa kiasan dan bahasa lugas. Dalam kehidupan baik secara pribadi, berpasangan, maupun berkelompok, manusia seringkali menyatakan maksud dengan kedua bentuk bahasa tersebut. Akan tetapi biasanya kedua bahasa tersebut akan digunakan pada waktu, tempat dan kepada orang yang berbeda.  Bahasa konotasi sebagai bahasa kiasan akan digunakan ketika seseorang bermaksud memuji, memohon, bahkan mencela seseorang secara tersembunyi dengan maksud yang tertentu pula. Biasanya konteks bahasa ini dilakukan pada saat yang tidak resmi, santai atau sejenisnya, seperti misalnya ketika dua orang sedang mengobrol tentang sesuatu hal. Lain halnya dengan bahas denotatif yang sifatnya lebih terbuka, bahasa denotatif biasanya digunakan pada saat-saat tertentu yang bersifat normal, seperti seorang kepala negara yang sedang berpidato pada pembukaan suatu acara resmi namun tidak menutup kemungkinan bahwa bahasa denotatif juga digunakan dalam kehidupan keseharian manusia. Pada aktifitas komunikasi verbal dan non-verbal, kedua bahasa tersebut dapat digunakan secara bersama-sama, bergantian, ataupun pada waktu, tempat dan orang yang berbeda.

Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa:

  • Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif apabila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh penerima pesan, karena itu olah kata menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam berkomunikasi.
  • Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses apabila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
  • Intonasi suara. Pada saat melakukan komunikasi, intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik, sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
  • Penggunaan humor yang diselipkan dalam pesan komunikasi yang disampaikan akan memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stres dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus di ingat bahwa humor adalah merupakan satu- satunya selingan dalam berkomunikasi.
  • Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
  • Timing (waktu yang tepat). Maksud dari waktu yang tepat dalam berkomunikasi adalah hal kritis yang perlu diperhatikan, karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi. Artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan

Komunikasi dapat ”macet” atau menjumpai hambatan pada sembarang titik dalam proses dari pengirim ke penerima. Berikut ini adalah hambatan- hambatan yang mungkin dijumpai dalam pesan-pesan verbal diantaranya sebagai berikut:

  1. Polarisasi, terjadi bila kita membagi realitas menjadi dua ekstrim yang tidak realistis, misalnya hitam dan putih atau baik dan buruk.
  2. Potong kompas (bypassing), terjadi bila pembicara dan pendengar saling salah paham akan makna yang dimaksudkan. Ini dapat terjadi bila kata yang sama digunakan untuk makna yang berbeda.
  3. Indiskriminasi, terjadi bila kita mengelompokkan hal-hal yang tidak sama ke dalam satu kelompok dan menganggap karena mereka berada dalam kelompok yang sama, mereka semuanya sama.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Rohim, Syaipul. 2009. Teori komunikasi (perspektif, ragam dan aplikasi). Jakarta: Renike Citra

Widjaj, AW. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar  Studi. Jakarta : Rineke Cipta

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s