Kemandirian

Kemandirian merupakan salah satu aspek yang gigih diperjuangkan oleh setiap remaja sebagaimana sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Fasick (dalam Steinberg, 1993) “one goal of every adolescent is to be accepted as an autonomous adult”. Kemandirian menurut Bahara (dalam Fatimah, 2006) berarti hal atau keadaan seseorang yang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapat awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk arti yang mengacu pada suatu keadaan dimana seseorang dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, 2001). Menurut Parker (dalam Ali, 2005) kemandirian juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak bergantung kepada otoritas dan tidak membutuhkan arahan secara penuh. Menurut Setiyawan (dalam Yusuf, 2001), kemandirian adalah keadaan seseorang yang dapat menentukan diri sendiri dan dapat dinyatakan dalam tindakan atau perilaku seseorang yang dapat dinilai. Arti ini memberikan penjelasan bahwa kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain, keengganan untuk dikontrol orang lain, dapat melakukan sendiri kegiatan-kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapi.

Menurut Lamman (dalam Fatimah, 2006) menyatakan bahwa kemandirian merupakan suatu kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Brawer (dalam Havinghurts, 1993) bahwa kemandirian merupakan perilaku yang terdapat pada seseorang yang timbul karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, bukan karena pengaruh orang lain. Menurut Maslow (dalam Ali, 2005) bahwa kemandirian merupakan salah satu dari tingkat kebutuhan manusia yang disebut sebagai kebutuhan otonomi. Ia juga menambahkan bahwa seorang yang mencapai aktualisasi diri memiliki sifat-sifat khusus pengaktualisasi yang salah satunya yaitu kebutuhan akan privasi dan independensi, dimana orang yang mengaktualisasikan diri dalam memenuhi kebutuhannya tidak membutuhkan orang lain. Sehubungan dengan itu menurut Beller (dalam Ali, 2005), orang yang mempunyai kemandirian rendah biasanya memiliki ciri khusus antara lain mencari bantuan, mencari perhatian, mencari pengarahan, dan mencari dukungan pada orang lain.

Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan melepaskan diri dari ketergantungan emosi pada orang lain terutama orangtua, mampu mengambil keputusan dan berkomitmen pada keputusan yang diambil, serta mampu bertingkah laku sesuai nilai yang diyakini dan berlaku pada lingkungan.

  • Ciri-Ciri Kemandirian

Ciri merupakan tanda khas yang membedakan sesuatu hal dari hal yang lainnya. Orang yang mandiri pun memiliki ciri tertentu yang membedakan dirinya dengan orang yang tidak mandiri. Ciri-ciri sikap mandiri menurut Spencer dan Kass (dalam Ali, 2005) adalah:

  1. Mampu mengambil inisiatif
  2. Mampu mengatasi masalah
  3. Penuh ketekunan
  4. Memperoleh kepuasan dari usahanya
  5. Berusaha menjalankan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

Sedangkan menurut Antonius (dalam Fatimah, 2003: 145) ciri-ciri sikap mandiri meliputi:

  1. Selalu berorientasi pada kualitas dan prestasi
  2. Mewujudkan aktualisasi dirinya dengan kerja keras dan memfokuskan diri
  3. Sikap dan tindakan terbaik terhadap apa yang sedang dilakukan
  4. Bersinergi untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan
  5. Berorientasi pada tujuan-akhir dengan memperhatikan proses.

Pendapat lain yang menyatakan tentang ciri sikap mandiri dikemukakan oleh Hill dan Steinberg (1993) adalah:

  1. Kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan mengetahui dengan pasti kapan seharusnya meminta/mempertimbangkan nasehat orang lain selama hal itu sesuai,
  2. Mampu mempertimbangkan bagian-bagian alternatif dari tindakan yang dilakukan berdasarkan penilaian sendiri dan saran-saran orang lain, dan mencapai suatu keputusan yang bebas tentang bagaimana harus bertindak atau melaksanakan keputusan dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan ciri sikap mandiri yang dikemukan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mandiri adalah orang yang percaya diri akan kemampuan dan memiliki prinsip dalam hidupnya sehingga ia akan cukup mampu melakukan aktivitas apapun dalam hidupnya tanpa harus bergantung pada orang lain.

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian pada remaja menurut Masrun, (1986:4) yaitu:

  1. Usia

Pengaruh dari orang lain akan berkurang secara perlahan-lahan pada saat anak menginjak usia lebih tinggi. Pada usia remaja mereka lebih berorientasi internal, karena percaya bahwa peristiwa-peristiwa dalam hidupnya ditentukan oleh tindakannya sendiri. Anak-anak akan lebih tergantung pada orang tuanya, tetapi ketergantungan itu lambat laun akan berkurang sesuai dengan bertambahnya usia.

  1. Jenis kelamin

Keinginan untuk berdiri sendiri dan mewujudkan dirinya sendiri merupakan kecenderungan yang ada pada setiap remaja. Perbedaan sifatsifat yang dimiliki oleh pria dan wanita disebabkan oleh perbedaan pribadi individu yang diberikan pada anak pria dan wanita. Dan perbedaan jasmani yang menyolok antara pria dan wanita secara psikis menyebabkan orang beranggapan bahwa perbedaan kemandirian antara pria dan wanita.

  1. Konsep diri

Konsep diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu tersebut memandang dan menilai keseluruhan dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya. Mereka yang mmandang dan menilai dirinya mampu, cenderung memiliki kemandirian dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang atau cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.

  1. Pendidikan

Semakin bertambahnya pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, kemungkinan untuk mencoba sesuatu baru semakin besar, sehingga orang akan lebih kreatif dan memiliki kemampuan. Dengan belajar seseorang dapat mewujudkan dirinya sendiri sehingga orang memiliki keinginan sesuatu secara tepat tanpa tergantung dengan orang lain.

  1. Keluarga

Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam melatarkan dasar-dasar kepribadian seorang anak, demikian pula dalam pembentukan kemandirian pada diri seseorang.

  1. Interaksi social

Kemampuan remaja dalam berinteraksi dengan lingkungan social serta mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik akan mendukung perilaku remaja yang bertanggung jawab, mempunyai perasaan aman dan mampu menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi dengan baik tidak mudah menyerah akan mendukung untuk berperilaku mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M.2005. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta

Bungin, Burhan. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif (Komunikasi, ekonomi, Kebijakan Publik, Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya). Jakarta: Kencana Pranada Group.

Depsos. 2008. UU.RI. No 4 tahun 1997 Tentang  penyandang cacat. Jakarta: Depsos

Depsos. 2003. Pedoman Umum Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Jakarta: Depsos RI

Fatimah, E. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: CV Pustaka Setia

Rohim, Syaipul. 2009. Teori komunikasi (perspektif, ragam dan aplikasi). Jakarta: Renike Citra

Widjaj, AW. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar  Studi. Jakarta : Rineke Cipta

Yusuf . 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s