NAPZA

Secara umum NAPZA zat-zat tertentu yang mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan ketergantungan (adiksi). Namun dari maraknya berbagai zat yang disalahgunakan di Indonesia akhir-akhir ini, penggunaan istilah narkotika saja kurang tepat karena tidak mencakup alkohol, nikotin dan kurang menegaskan sejumlah zat yang banyak dipakai di Indonesia yaitu zat psikotropika, karena itu, istilah yang dianggap tepat untuk saat ini adalah NAPZA : narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Badan Narkotika Indonesia 2003).

Narkoba atau NAPZA adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan/psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (UU RI No 22 / 1997).

  • Jenis NAPZA

Beberapa jenis NAPZA yang populer digunakan di Indonesia (Adiningsih, 2002):

  1. Putau : tergolong heroin yang sangat membuat ketergantungan, berbentuk bubuk.
  2. Ganja : berisi zat kimia delta-9-tetra hidrokanbinol, berbentuk tanaman yang dikeringkan.
  3. Shabu-shabu: kristal yang berisi methamphetamine.
  4. Ekstasi: methylendioxy methamphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul.
  5. Pil BK, megadon dan obat-obat depresan sejenis.

Pada awalnya, zat-zat ini digunakan untuk tujuan medis seperti penghilang rasa sakit. Namun apabila zat-zat ini digunakan secara tetap, bukan untuk tujuan medis atau yang digunakan tanpa mengikuti dosis yang seharusnya, serta dapat menimbulkan kerusakan fisik, mental dan sikap hidup masyarakat, maka disebut penyalahgunaan NAPZA (drug abuse) (Erita, 2004).

Salah satu sifat yang menyertai penyalahgunaan NAPZA adalah ketergantungan (addiction). Misalnya heroin yang ditemukan oleh Henrich Dresser tahun 1875, digunakan untuk menggantikan morfin dalam pembiusan karena diduga heroin tidak menimbulkan ketergantungan. Padahal – keduanya berasal dari opium – heroin justru menimbulkan ketergantungan yang sangat kuat. Sejarah juga menunjukkan bahwa banyak tentara Amerika pasca perang Vietnam menjadi ketergantungan heroin karena zat ini sering digunakan sebagai penghilang rasa sakit selama perang berlangsung (Erita, 2004).

Narkotika terdiri dari 3 golongan :

  1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
  2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
  3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Psikotropika terdiri dari 4 golongan (Adiningsih, 2002):

  1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
  2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
  3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
  4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).

Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :

  1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :
    1. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % (Bir).
    2. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % (Berbagai minuman anggur)
    3. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % (Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker).
  2. Inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
  3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan (Adiningsih, 2002):

  1. Golongan Depresan (Downer)

Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi : tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya : Opioda (Morfin, Heroin, Codein), sedative (penenang), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas).

  1. Golongan Stimulan (Upper)

Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat, contoh : Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.

  1. Golongan Halusinogen.

Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu, contoh : Kanabis (ganja).

  • Ciri-ciri Ketergantungan NAPZA

Ciri-ciri ketergantungan NAPZA (Badan Narkotika Indonesia, 2003):

  1. Keinginan yang tak tertahankan untuk mengkonsumsi salah satu atau lebih zat yang tergolong NAPZA.
  2. Kecenderungan untuk menambah dosis sejalan dengan batas toleransi tubuh yang meningkat.
  3. Ketergantungan psikis, yaitu apabila penggunaan NAPZA dihentikan akan menimbulkan kecemasan, depresi dan gejala psikis lain.
  4. Ketergantungan fisik, yaitu apabila pemakaian dihentikan akan menimbulkan gejala fisik yang disebut gejala putus zat (withdrawal syndrome).

 

  • Penyebab Penyalahgunaan NAPZA

Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor (Badan Narkotika Indonesia, 2003):

  1. Faktor individual :

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat.

Ciri-ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA:

  1. Cenderung memberontak
  2. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
  3. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
  4. Kurang percaya diri
  5. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
  6. Murung, pemalu, pendiam
  7. Merasa bosan dan jenuh
  8. Keinginan untuk bersenang-senang yang berlebihan
  9. Keinginan untuk mencoba yang sedang mode
  10. Identitas diri kabur
  11. Kemampuan komunikasi yang rendah
  12. Putus sekolah
  13. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.

 

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.

Lingkungan Keluarga

  1. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
  2. Hubungan kurang harmonis
  3. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
  4. Orang tua terlampau sibuk, acuh
  5. Orang tua otoriter
  6. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
  7. Kurangnya kehidupan beragama.

Lingkungan Sekolah

  1. Sekolah yang kurang disiplin
  2. Sekolah terletak dekat tempat hiburan
  3. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
  4. Adanya murid pengguna NAPZA.

Lingkungan Teman Sebaya :

  1. Berteman dengan penyalahguna
  2. Tekanan atau ancaman dari teman.

Lingkungan Masyarakat / Sosial :

  1. Lemahnya penegak hukum
  2. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.

Faktor–faktor tersebut di atas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor di atas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA (Badan Narkotika Indonesia, 2003).

  • Gejala Klinis Penyalahgunaan NAPZA
  1. Perubahan Fisik
    1. Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif.
    2. Bila terjadi kelebihan dosis (Overdosis) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, bahkan meninggal.
    3. Saat sedang ketagihan (Sakau) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
    4. Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.
  2. Perubahan sikap dan perilaku :
    1. Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
    2. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.
    3. Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
    4. Sering mengurung diri, berlama – lama di kamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga yang lain.
    5. Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
    6. Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi.
    7. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan, pencurigaan, tertutup dan penuh rahasia.
  • Pengaruh Penyalahgunaan NAPZA

NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya (Badan Narkotika Indonesia, 2003):

  1. Komplikasi Medik, biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada :
    1. Otak dan susunan saraf pusat :
      • Gangguan daya ingat
      • Gangguan perhatian / konsentrasi
      • Gangguan bertindak rasional
      • Gangguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
      • Gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
      • Gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.
    2. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia).

Pembengkakan paru (Oedema Paru), jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung. hati terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.

  1. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.

Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah (GO), raja singa (Siphilis) dan lain-lain. Pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama – sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.

  1. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
  2. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang.
  3. Komplikasi pada kehamilan :
    • Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
    • Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
    • Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
  1. Dampak Sosial
    1. Di Lingkungan Keluarga
  • Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
  • Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
  • Perilaku menyimpang / asosial anak (berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.
  • Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
  • Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.
  1. Di Lingkungan Sekolah
    • Merusak disiplin dan motivasi belajar.
    • Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
    • Mempengaruhi peningkatan penyalahgunaan di antara sesama teman sebaya.
  2. Di Lingkungan Masyarakat
    • Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna/mangsanya.
    • Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
    • Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
    • Meningkatnya kecelakaan.
  • Upaya Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA

Menurut Badan Narkotika Indonesia, 2003, upaya pencegahan meliputi 3 hal :

  1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi. Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA.
    Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghambat proses tumbuh kembang anak dapat di atasi dengan baik.
  2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
  3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.

Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :

  1. Mengasuh anak dengan baik.
    • Penuh kasih sayang penanaman disiplin yang baik
    • Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
    • Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
    • Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
  2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat, hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
  3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
  4. Orang tua menjadi contoh yang baik. Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
  5. Kembangkan komunikasi yang baik, komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
  6. Memperkuat kehidupan beragama, yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
  7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak

Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA:

  1. Upaya terhadap siswa :
  1. Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
  2. Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di sekolah.
  3. Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap menghindari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
  4. Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa (ekstrakurikuler).
  5. Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.
  6. Membantu siswa yang telah menyalahgunakan NAPZA untuk bisa menghentikannya.
  7. Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari – hari.
  1. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah
    1. Razia dengan cara sidak
    2. Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
    3. Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
    4. Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
    5. Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
  1. Upaya untuk membina lingkungan sekolah
  1. Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina hubungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik.
  2. Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
  3. Sikap keteladanan guru amat penting
  4. Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.

Hal yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA:

  1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama-sama.
  2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahgunaan NAPZA sehingga masyarakat dapat menyadarinya.
  3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
  4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s