Demensia Senilis

2.2.1. Definisi Demensia

Demensia senilis adalah penurunan umum fungsi intelektual yang bisa meliputi kehilangan ingatan, kemampuan penalaran abstrak, pertimbangan dan bahasa yang biasanya bersifat progresif dan irreversibel dan bukan merupakan bagian normal dari penuaan (Smeltzer dan Bare, 2001).

Demensia senilis merupakan sindroma yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran dan sebenarnya adalah penyakit penuaan (Kaplan dan Sadock, 1997).

  • Faktor Risiko Demensia Senilis

Faktor risiko demensia senilis menurut Depkes RI (1999) adalah riwayat keluarga, sindrom down, trauma kepala, hipertensi,stroke.

  • Karakteristik Demensia Senilis

Menurut Depkes RI (1999) karakteristik demensia senilis diantaranya:

  1. Gangguan daya ingat jangka pendek atau jangka panjang.
  2. Gangguan proses pikir abstrak, misalnya tidak dapat memahami arti, seseorang, konsep atau kata.
  3. Gangguan dalam judgment, misalnya tidak mampu mengatasi masalah dalam pekerjaan, hubungan interpersonal, hubungan keluarga.
  4. Afasia, apraksia, agnosia.
  5. Perubahan kepribadian.
  6. Aktifitas sosial terganggu.

2.2.4.    Klasifikasi Demensia Senilis                                                        

  1. Demensia Vaskuler adalah sindrom demensia yang disebabkan disfungsi otak yang diakibatkan oleh penyakit serebrovaskuler (Lumbatobing, 1997).

Demensia vaskuler adalah gangguan mental organik yang ditandai dengan penurunan fungsi mental yang tidak seragam (Smeltzer dan Bare, 2001).

  1. Demensia senilis tipe Alzhaimer

Adalah penyakit mental organik kronis   yang mempunyai awitan tersembunyi dan membahayakan,  secara umum progresif, menjadi makin buruk. Gambaran khusus  meliputi  kehilangan  berbagai segi kemampuan intelektual, seperti memori, penilaian, pikiran abstrak   dan perubahan pada kepribadian dan perilaku (Mary C. Townsend, 1998).

Etiologi  belum diketahui, namun diduga terjadinya peningkatan pengurangan jumlah sel neuron  di susunan saraf pusat.    Faktor risiko meliputi:

  1. Usia, merupakan faktor risiko bagi semua jenis demensia termasuk Alzhaimer, bertambah tinggi usia bertambah besar kemungkinan menderita demensia.
  2. Riwayat penyakit Alzhaimer
  3. Kelamin wanita
  4. Pendidikan yang rendah
  5. Demensia dengan penyebab jenis lain dintaranya penyakit tumor otak, gangguan nutrisi, trauma, stres.
    • Demensia Vaskuler
1. Etiologi

Penyebab demensia vaskuler tidak diketahui, tetapi faktor risiko meliputi  hipertensi,  diet kolesterol tinggi, merokok ( Potter dan Perry, 2005).

Faktor predisposisi terjadinya demensia vaskuler adalah hipertensi (Joseph J. Gallo, 1998).

Demensia vaskuler disebabkan oleh disfungsi otak dengan tanda adanya penyakit vaskuler, misalnya hipertensi  (Lumbatobing, 1997).

Penyebab utama demensia vaskuler dianggap adalah penyakit vaskular serebral yang multipel yang menyebabkan suatu pola gejala demensia, paling sering ditemukan pada orang yang berusia antara 60 dan 70 tahun (lebih dini), sering pada laki-laki dan hipertensi merupakan predisposisi terhadap penyakit (Kaplan dan Sadock, 1997).

Demensia vaskuler terjadi karena bagian otak yang rusak yang umumnya dengan hipertensi dan usia awitan lebih awal dari demensia degeratif tipe Alzheimer (Mary  C.  Townsend, 1998).

Menurut Lumbantobing (1997) faktor resiko demensia vascular meliputi :

  1. Usia merupakan faktor resiko bertambahnya tinggi usia bertambah besar kemungkinan menderita demensia.
  2. Kelamin, pria mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapatkan demensia vascular.
  3. Pendidikan, pendidikan yang rendah mungkin juga merupakan faktor resiko.
  4. Hipertensi, penyakit jantung koroner, infark miokard, gagal jantung, obesitas, kurang berolah raga.
2.       Gambaran Klinik

Gambaran klinik demensia vascular menurut Kaplan dan Sadock (1997) meliputi :

  1. Perkembangan defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan
  1. Gangguan daya ingat (gangguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru dan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya).
  2. Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut :
    1. Afasia (gangguan bahasa)
    2. Apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas motorik).
    3. Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda walaupun fungsi sensorik adalah utuh).
    4. Gangguan dalam fungsi eksekutif (yaitu merencanakan, mengurutkan dan abstrak).
    5. Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing – masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya.
    6. Tanda dan gejala neurologis fokal (misalnya, kelainan gaya berjalan, kelemahan salah satu ekstremitas), didapatkannya penyakit vascular seperti hipertensi atau sumber emboli dari jantung.
    7. Patofisiologi

Demensia vascular disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak. Infark, kematian jaringan otak, terjadi dengan kecepatan luar biasa. Infark serebri kecil – kecil multiple, menyebabkan demensia (Smeltzer dan Bare, 2001).

DAFTAR PUSTAKA

Agung Waluyo (penterjemah), Smeltzer, Suzzane dan Bare, Brenda G (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Brink, Pamela J (2000). Langkah Dasar Perencanaan Riset Keperawatan. Jakarta: EGC.

Departemen kesehatan RI (1999). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta: Depkes RI

Departeman Kesehatan RI. (2003). Warta Kesehatan. Jakarta:Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat.

Gallo, Joseph_reichel, William, et al (1998). Buku Saku Gerontologi. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Hull, Alison  (1996).  Penyakit jantung Hipertensi dan Nutrisi. Jakarta:Bumi Aksara.

Kaplan, Harold I dan Sadock, Benjamin J (Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : Binarupa Aksara.

Lily  Ismudiati Rilantono (1996). Buku Kardiologi. FKUI : Jakarta.

Lumbatobing (1997). Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Maramis (1995). Catatan Ilmu kedokteran Jiwa. Jakarta: Airlangga University Press.

Moorhouse, Doenges (1999). Rencana Asuhan keperawatan. Jakarta:

Ni Made Swantari (2001). “Masalah Hipertensi dan Penanggulanganya”.Majalah Kedokteran Indonesia. Volume 50, Nomor 1. Jakarta : Yayasan Penerbit IDI.

Nur Mukaromatis Saleha (2006). Catatan Kuliah keperawatan Medikal Bedah.(Tidak dipublikasikan). Bengkulu: STIKES TMS.

Revvy Eryani (2005). Hubungan Stres dengan Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Bengkulu. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Bengkulu:STIKES TMS.

Sjaifoellah Noer (1996). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. jakarta: EGC

Soekidjo Notoadmodjo (2002). Metodelogi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Soeparman (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Townsend, Mary C (1998). Buku Saku Diagnosa keperawatan Pada keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Sudjana (1996). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Suharsimi Arikunto (2002). Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka cipta

.Wahyudi Nugroho (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Watson, Roger (1993). Perwatan Pada Lansia. Jakarta: EGC.

Potter dan Perry (2005).  Buku Ajar Fundamental Keperawatan.  Jakarta : EGC

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s