Konsep dasar teori bounding attachment

      Bounding, didefinisikan Brazelton, dalam Bobak (2005) sebagai suatu ketertarikan mutual pertama antar individu, misalnya antar orang tua dan anak, saat mereka pertama kali bertemu. Attachment terjadi pada saat periode krisis, seperti pada kelahiran atau adopsi.

Bounding attachment menurut Parmi (2000) adalah suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir. Menurut Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitaskualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi, sedangkan Menurut Subroto (2002) bounding attachement adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.

  • Keuntungan bounding attachment

Menurut DEPKES RI (2002), keuntungan bounding attachment adalah:

  1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial
  2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
  3. Bayi merasa nyaman seperti berada dalam rahim dan bayi juga bisa merasakan detak jantung ibu
  4. Mencegah hipotermi
  5. Mengurangi infeksi
  6. Air liur bayi mampu membersihkan dada ibu dari bakteri
  7. Tubuh ibu mampu berfungsi sebagai natural termostat (penyesuai suhu tubuh). Bila suhu tubuh bayi rendah karena kedinginan, maka tubuh ibu dapat meningkatkan suhunya sehingga kembali normal. Demikian pula ketika suhu tubuh bayi tinggi
  8. Bunyi detak jantung ibu (ketika bayi berada di dadanya) mampu membuat nafas bayi menjadi stabil
  9. Bounding attachment dan inisiasi menyusu dini dapat menurunkan angka kematian pada bayi
  10. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial
  11. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
  12. Memberi kemudahan pada ibu untuk memberikan ASI

Oleh karena begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan inisiasi menyusu dini dan bounding attachment, maka hal ini harus disiapkan jauh-jauh hari oleh suami dan istri. Mereka berdua perlu melakukan konsultasi ke tenaga medis serta tempat bersalin yang dituju terkait bisa tidaknya dilakukan inisiasi menyusu dini dan bounding attachment ini. Lingkungan di sekitar tempat bersalin pun mempengaruhi berhasil tidaknya inisiasi menyusu dini dan bounding attachment (Noname, 2010).

  • Kekurangan bounding attachment

      Kekurangan bounding attachment (Dep.Kes 2002), yaitu : apabila bounding attachment  tidak terbina dengan baik, akan menumbuhkan rasa tidak ada saling percaya antara ibu dan bayi.

  • Hambatan bounding attachment

Hambatan bounding attachment (Depkes, 2002).

  • Kurangnya sistem dukungan
  • Terdapat penyakit dengan resiko (ibu sakit)
  • Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik)
  • Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
  • Tahap-tahap bounding attachment

      Menurut Klaus, Kenell dalam Bobak 2005, bagian penting dalam ikatan ialah:

  • Acquaintance (perkenalan), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
  • Bounding (keterikatan)
  • Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
  • Elemen-elemen bounding attachment

      Menurut Hapsari (2009), elemen-elemen atau cara-cara melakukan bounding attachment adalah sebagai berikut:

  • Sentuhan

Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.

  • Rawat gabung

Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.

  • Kontak mata

Ketika bayi barn lahir mampu secara fungsional mempertahankan
kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, dalam Bobak 2005).

  1. Suara

Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.

  1. Aroma

Perilaku lain yang terjalin antara orang tua dan bayi ialah respons terhadap aroma atau bau masing-masing. Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, dalam Bobak 2005), sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, dalam Bobak 2005).

  1. Entrainment

Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.

  1. Bioritme

Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi barn lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses bounding attachment

     Menurut Mala (2011), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses bounding attachment adalah:

  • Kesehatan emosional orang tua

Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.

  • Tingkat kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak.

Dalam berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.

  • Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan.

Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat/dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya.

  • Kedekatan orang tua dan anak.

Dengan metode rooming in kedekatan antara orang tua dan anak dapat terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud diantara keduanya.

  • Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin).

Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika keadaan anak sehat/normal dan jenis kelamin sesuai dengan

yang diharapkan.

Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat dibanding dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati sembilan bulan bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses kelahiran membuat keduanya memiliki hubungan yang unik.

  • Prinsip-prinsip bounding attachment

      Menurut Klaus dan Kennel ( dalam Bobak, 2005) terdapat prinsip-prinsip yang penting dalam bounding attachment, antara lain :

  • Tampak pada periode sensitif pada jam-jam atau menit-menit pertama setelah lahir sehingga perlu bagi orang tua kontak dengan bayi mereka agar perkembangan selanjutnya menjadi optimal.
  • Tampak respon-respon positif terhadap ibu dan ayah ketika bayi diberikan pertama kali.
  • Pada saat proses bounding attachment dibangun, orang tua menjadi terikat hanya berfokus pada bayinya.
  • Pada saat terjadi kecocokan, perlu untuk bayi merespon pada ibu dan ayah dengan beberapa tanda seperti pergerakkan tubuh dan mats.
  • Individu yang menyaksikan langsung proses kelahiran menjadi terikat kuat pada bayi.
  • Proses bounding attachment dapat dilalui bersama walaupun sulit namun bukan tidak mungkin, misalnya orang tua terikat agar bayinya saat berkabung atau terancam penglihatan orang lain.
  • Kejadian-kejadian awal pada bayi mungkin mempunyai pengaruh panjang, misalnya adanya gangguan sementara pada hari-hari pertama menyebabkan cemas berlebihan, perhatian yang lama atau tidak, yang mempunyai implikasi dan perkembangan selanjutnya.

Menurut Mercer dalam Bobak (2005) terdapat lima prakondisi yang mempengaruhi ikatan, yaitu:

  • Kesehatan emosional orang tua (termasuk mempercayai orang lain)
  • Sistem dukungan sosial yang meliputi pasangan hidup, teman, dan keluarga
  • Suatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten
  • Kedekatan orang tua dengan bayi
  • Kecocokan orang tua – bayi (termasuk keadaan, temperamen, dan jenis kelamin).

Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir

      Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir menurut Bobak (2005) adalah:

  1. Perilaku Memfasilitasi
  2. Menatap, mencari ciri khas anak.
  3. Kontak mata.
  4. Memberikan perhatian.
  5. Menganggap anak sebagai individu yang unik.
  6. Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
  7. Memberikan senyuman.
  8. Berbicara/bernyanyi.
  9. Menunjukkan kebanggaan pada anak.
  10. Mengajak anak pada acara keluarga.
  11. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
  12. Bereaksi positif terhadap perilaku anak.
  13. Perilaku penghambat
  14. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
  15. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
  16. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
  17. Tidak menggenggam jarinya.
  18. Terburu-buru dalam menyusui.
  19. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi respon orang tua terhadap bayinya
  1. Faktor internal

Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan (mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan.

  1. Faktor eksternal

Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya (Mala, 2011).

  • Peran tenaga kesehatan dalam mendukung terjadinya bounding attachment
  • Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.
  • Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
  • Sewaktu pemeriksaan ante natal care, bidan selalu mengingatkan ibu untuk menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar
  • Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi
  • Bidan juga mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti ibu tidak merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan.

Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah kelahiran, hendaknya Bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan bayi melainkan Bidan mampu untuk mengundang rasa penasaran ibu untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya.  Pada kasus bayi atau ibu dengan risiko,  ibu dapat tetap melakukan bonding attachment ketika ibu memberi ASI bayinya atau ketika mengunjungi bayi diruang perinatal (Mala, 2011).

 

DAFTAR PUSTAKA

Afifah. (2009). Dampak Persalinan Sectio Caesarea terhadap Bounding. Di akses    melalui: http://dampak-SC-terhadap-Bounding-ibu-anak.html pada tanggal 03 April 2012.

Bobak, dkk. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Departemen Kesehatan RI. (2010). UU Kesehatan RI No. 29 Tahun 2010 tentang Kesehatan. Jakarta : CV. Kleder Jaya.

—————. (2006). Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: CV. Kleder Jaya.

Doenges, Marilyn. E. (2001). Rencana Perawatan Maternal Bayi. Jakarta : EGC.

Hapsari.(2009). Askeb Bounding Attachment. Di akses melalui: http://superbidan hapsari.wordpress.com/2009/12/14/makalah-askeb-2-%E2%80%9Cimd-dan-bounding-attachment%E2%80%9D/ pada tanggal 03 April 2012.

Kurniawati. (2008). Komplikasi Sectio Caesarea. Di akses melalui: http://komplikasi-SC-pada-Ibu.htm pada tanggal 03 April 2012.

Mala. (2011) . Bounding Attachement. Di akses melalui. http://midwifemala. blogspot.com/2011/02/bounding-attachment.html pada tanggal 12 februari 2011.

Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius.

Manuaba, Ida Bagus. (2001). Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus. (2005). Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

————–. (2008). Buku Ajar: Patologi Obstetri – Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.

————–. (2004). Buku Ajar: Patologi Obstetri – Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.

Muchtar, Rustam. (1998). Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta : EGC.

Mutiara. (2004). Persalinan dengan Metode Sectio Caesarea. Di akses melalui: http://mutiara-sectio-caesarea.html pada tanggal 03 April 2012

Parmi. (2000). Gangguan Bounding Attachment. Diakses melalui: http://gangguan-bounding-attachment.html  Pada tanggal 03 April 2012

Prawirohardjo, Sarwono. (2008). Ilmu Kebidanan. Edisi IV. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Potter, P.A dan Perry A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, Dan Praktik.Edisi 4 Volume 1. Jakarta : EGC.

Purwandari. (2009). Nyeri Post Sectio Caesarea. Di akses melalui: http://Nyeri-postSC.html pada tanggal 03 April 2009.

Syaifudin, A.B. (2006). Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.       Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

—————–. (2000). Anatomi fisiologi. EGC: Jakarta.

Wiknjosastro, Hanifa. (2005). Ilmu Kebidanan. Edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s