Triase / Triage

Triage (triase) berkembang dari kebutuhan akan perioritas penanganan cedera pada prajurit di medan perang. Konsep ini diperkenalkan di Perancis pada awal abad ke-19. Kata triase sendiri berasal dari bahasa Perancis “Triage” (trier), yang berarti pemilahan. Seiring perkembangan zaman, konsep ini terus berkembang dan dipergunakan hampir diseluruh dunia. Saat ini, triase dipergunakan sebagai standar penyeleksian korban oleh Instalasi-Instalasi gawat darurat rumah sakit di berbagai negara (Ihsan, 2009).

  • Pengertian Triase

Menurut Pusponegoro, D.A, dkk, (2007) triase adalah pemilahan penderita  menurut beratnya keadaan gawat darurat. Triase ini bukan mengobati, namun hanya memilah (memilih dan memisahkan). Memprioritaskan yang mempunyai harapan hidup yang lebih baik. Menurut Soedarmo,  S, dkk (2001) Triase adalah menyortir atau memilih. dirancang untuk menempatkan pasien yang tepat diwaktu yang tepat dengan pemberi pelayanan  yang tepat. Pendapat Suhartono (2001) triase adalah memilah dan menentukan derajat kegawatan penderita.

Triase adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada (Julianto, 2003). Lebih lanjut Menurut Saanin, S (2007) triase adalah proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit (berdasarkan yang paling mungkin akan mengalami perburukan klinis segera) untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat medik serta prioritas transportasi (berdasarkan ketersediaan sarana untuk tindakan).

  • Tujuan dan Prinsip Triase
  1. Tujuan Triase

Memberikan penanganan terbaik pada korban dalam jumlah yang banyak untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan maupun resiko cedera bertambah parah (Ihsan, 2009). Menurut Suhartono (2001) tujuan triase sebagai acuan menentukan prioritas dan tempat pelayanan medik penderita.

  1. Prinsip Triase

Pada keadaan bencana massal, korban timbul dalam jumlah yang tidak sedikit dengan resiko cedera dan tingkat survive yang beragam. Pertolongan harus disesuaikan dengan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Hal tersebut merupakan dasar dalam memilah korban untuk memberikan perioritas pertolongan (Ihsan, 2009).

Prinsip umum triase adalah sebagai berikut: Seanin, S (2007)

  1. Perkenalkan diri anda dan jelaskan apa yang akan anda lakukan.
  2. Pertahankan rasa percaya diri pasien.
  3. Coba untuk mengamati semua pasien yang datang, bahkan saat  mewawancara pasien.
  4. Pertahankan arus informasi petugas triase dengan area tunggu dan area   Komunikasi lancar sangat perlu. Bila ada waktu lakukan penyuluhan.
  5. Pahami sistem IRD dan keterbatasan anda. Ingat objektif primer aturan triase. Gunakan sumber daya untuk mempertahankan standar pelayanan memadai.

Triase dilakukan tidak lebih dari 60 detik/pasien dan setiap pertolongan harus dilakukan sesegera mungkin. Pada umumnya penilaian korban dalam triase dapat dilakukan dengan: (Ihsan, 2009).

  1. Menilai tanda vital dan kondisi umum korban
  2. Menilai kebutuhan medis
  3. Menilai kemungkinan bertahan hidup
  4. Menilai bantuan yang memungkinkan
  5. Memprioritaskan penanganan definitif
  6. Tag Warna
  • Kategori

Setelah melakukan penilaian, korban dikategorikan sesuasi dengan kondisinya dan diberi tag warna, sebagai berikut: (Ihsan, 2009).

  1. Merah (Immediate)

Setiap korban dengan kondisi yang mengancam jiwanya dan dapat mematikan dalam ukuran menit, harus ditangani dengan segera.

  1. Kuning (Delay)

Setiap korban dengan kondisi cedera berat namun penganannya dapat ditunda.

  1. Hijau (Walking Wounded)

Korban dengan kondisi yang cukup ringan, korban dapat berjalan

  1. Hitam (Dead and Dying)

Korban meninggal atau dalam kondisi yang sangat sulit untuk diberi pertolongan.

Menurut (Pusponegoro, D.A, dkk, (2007) triase dan pengelompokan berdasarkan Tagging dalah sebagai berikut:

  1. Prioritas Nol (Hitam): Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.
  2. Prioritas Pertama (Merah): Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik dan transport segera untuk tetap hidup (misal: gagal nafas, cedera torako-abdominal, cedera kepala atau maksilo-fasial berat, shok atau perdarahan berat, luka bakar berat).
  3. Prioritas Kedua (Kuning): Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera yang kurang berat dan dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien mungkin mengalami cedera dalam jenis cakupan yang luas (misal: cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang leher tidak berat, serta luka bakar ringan).
  4. Prioritas Ketiga (Hijau): Pasien degan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera, memerlukan bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian ulang berkala (cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas, serta gawat darurat psikologis).
    • Tindakan/Prosedur Triase

Tindakan / Prosedur Triase adalah sebagai berikut: (Ihsan, 2009).

  1. Penderita datang diterima petugas atau paramedis Instalasi Gawat Darurat
  2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya.
  3. Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan memberi kode huruf:
    1. P-1 adalah penderita gawat darurat (pasien dengan kondisi mengancam) Misalnya: Penderita stroke trombosis, luka bakar, appendic acuta, Kecelakaan Lalu Lintas (KLL), Cor Vulmonale Accute (CVA), Miokard Infark Akut (MIA), asma bronchial dan lain-lain.
  1. P-2 adalah penderita yang kegawat daruratan masih tidak urgent Misalnya: Penderita Thipoid, Hipertensi, dan Diabetes Militus (DM).
  2. P-3 (Prioritas ke-3) adalah penderita tidak gawat dan tidak darurat. Misalnya: Penderita Common Cold, penderita rawat jalan, abses, luka dan robek.
    • Pelaksanaan Triase Pada Tingkat Rumah Sakit

Perencanaan bencana rumah sakit harus dimulai dilaksanakan meliputi: (Pusponegoro, D.A, dkk, 2007).

  1. Pemberitahuan kepada semua petugas
  2. Persiapan daerah triase dan terapi
  3. Klasifikasi penderita yang sudah dirawat, untuk mennetukan sumber daya
  4. Pemeriksaan perbekalan (Darah, cairan IV, medikasi) dan bhan lain.
  5. Persiapan Dekontaminasi bila diperlukan
  6. Persiapan masalah kemanan
  7. Persiapan pembentukan pusat hubungan masyarak
  • Triase Gawat Darurat Massal
  1. Gadar massal.

Keadaan musibah dengan korban lebih dari 30 orang.

  1. Petunjuk gadar massal.

Prosedur yang disusun untuk mengkoordinasikan pelayanan secara     spontan untuk unit-unit kerja dan instansi / SMF terkait apabila timbul      suatu situasi gadar massal.

  1. Care

Daerah yang dipergunakan untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban musibah massal.

  1. Collection

Daerah yang dipergunakan untuk mengumpulkan pertama-kali korban   gadar.

  1. Crisis center / Emergency operation center.

Tempat berkumpulnya seluruh pimpinan partisipan atau instansi/SMF  yang terlibat dalam penanggulangan gadar massal, dan dari tempat tersebut dikeluarkan seluruh informasi serta keputusan penting selama kegiatan berlangsung.

  1. Drill.

Latihan yang mempraktekkan perencanaan penanggulangan gadar     massal, untuk menyempurnakan serta efektifitas perencanaan      penanggulangan gadar massal.

  1. Emergency Operation Committee.

Komite yang dibentuk dalam rangka mendukung, mengkoordinasi, dan memantau kegiatan operasional dalam penanggulangan gadar massal.

  1. Full Scale Emergency Exercise.

Latihan penanggulangan gadar massal dengan mengerahkan dan       memanfaatkan seluruh peralatan dan personal sebagaimana         dipergunakan untuk penanggulangan gadar massal sesungguhnya.

  1. Greeter & Meeters Room.

Tempat diperuntukkan bagi berkumpulnya para keluarga korban.

  1. Grid Map.

Peta lingkungan yang dilengkapi garis-garis petak yang mempunyai ukuran sebenarnya 1 m persegi, diberi nomor dan huruf sehingga memudahkan mencari suatu lokasi.

  1. Heli Pad.

Tempat yang dipersiapkan untuk pendaratan helikopter.

  1. Holding

Tempat sementara yang dipersiapkan bagi korban yang tidak luka.

  1. On Scene Commander.

Pemimpin operasi penanggulangan gadar massal dilokasi musibah.

Tatacara yang harus diikuti dalam melaksanakan kegiatan.

  1. Security

Garis pemisah berupa pita berwarna kuning sebagai batas area        tertentu yang berada dalam pengawasan security.

  1. Rendezvous

Tempat yang sudah ditentukan dimana tenaga atau kendaraan bantuan yang akan terlibat dalam penanggulangan keadaan gadar massal,   untuk pertama kali menerima pemberitahuan langsung bertemu satu dengan lainnya, kemudian menuju kelokasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s