Pembangunan Perekonomian Pedesaan

Ekonomi pedesaan dan ekonomi petani ditandai Dalam bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agrarian, Pendudukanya harus lebih dari separuhnya terlihat dalam pertanian, ada kekuasaan Negara dan lapisan penguasaanya, ada pemisahan antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota dengan latar belakang desa-desa, dan  Satuan produksinya ialah keluarga rumah-rumah petani.

Ekonomi petani, menurut Thornier yang mengukuhkan pendapat ahli ekonomi Rusia Charanov banyak tedapat di Negara yang sedang berkembang itu mendapat tempat-tempat yang tersendiri. Ia juga tidak puas dengan semata-mata menyebut ekonomi petani sebagai perwujudan cara produksi Asia.

Pertemuan antara ekonomi ekspor, baik melalui peraturan tanam paksa maupun perkebunan swasta pada abad ke-19 merupakan pertemauan antara dua cara produksi dengan akibat-akibat yang menarik perhatian sejarah ekonomi. Tidak kurang dari itu sebenarnya ialah pertemuan antara dua system ekonomi sebagai dikemukakan oleh Boeke sejak lama, yang sampai sekarang pun masih berlaku dalam pengeritian pengerian tertentu.

Sejak tahap pembangunan sampai sekarang, sektor pertanian adalah sektor yang  menjadi pusat perhatian karena merupakan sektor penting yang mendukung perekonomian nasional. Hal ini didasarkan kepada petimbangan bahwa sektor ini selain dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), juga memberikan kesempatan kerja bagi kebanyakan tenaga kerja yang tidak atau kurang terdidik atau kurang trampil.

Strategi pembangunan nasional dalam dua dasawarsa pertama orde baru dari 1970-an sampai akhir 1980-an yang memusatkan sektor pertanian terutama tanaman pangan khusunya padi, mula-mula  telah menunjukkan keberhasilan dengan baik karena mampu memanfaatkan potensi teknologi pangan berupa bibit unggul dan pemupukan berat, telah menyumbang kepada pertumbuhan GDP sektor pertanian sebsar 3,8% pertahun, jika dibandingkan dengan pertumbuhan yang bertumbuh dengan laju 2,1%. Namun dewaasa ini cenderung mengalami penurunan (BPS, 2010).

Menurut Friedman (1999:607-613) pembangunan pedesaan merupakan strategi yang direncanakan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat miskin. Sepanjang pembangunan pedesaan untuk mengurangi tingakat kemiskinan maka strateginya harus jelas untuk meningkatkan produksi dan mengangkat produktivitas.

Menurut meningkatkan taraf hidup dan lingkungan di pedesaan menurut Nasution (2004:56) dapat tempuh melalui: 1) Menjamin masyarakat mendapat tempat tinggal yang layak, 2) Pertumbuhan ekonomi yang terus-terus menerus membuat diversifikasi, 3) Memberi perlindungan terhadap keterbukaan antara daerah pedesaan dan perkotaan.

Untuk merumuskan kebijakan pembangunan desa dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok, yakni: desa  cepat berkembang, desa potensial. Dan desa tertinggal. Tujuan pengelompokkan desa ini adalah untuk dapat merumuskan kebijaksanaan pembangunan yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok desa (Rustiadi, 2007:3330).

Untuk meningkatkan taraf hidup dan lingkungan   di pedesaan menurut Nasution (2004:56) dapat ditempuh melalui:

  1. Menjamin masyarakat mendapat tempat tinggal yang layak
  2. Pertumuhan ekonomi yang terus menerus membuat diversifikasi
  3. Memberi perlindungan terhadap keterbukaan antara daerah perdesaan dan perkotaan

Untuk menjaga kelestarian lingkungan pedesaan, dan kaitannya dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, maka dalam pembangunan pedesaan pendekatan harus komprehensif. Sasaran stretegis untuk mengurangi kemiskinan harus pada masyarakat miskin, tetapi strategi ini sulit dan mahal, karena:

1. Masalah identifikasi keluarga miskin

2. Target program infrastruktur perdesaan adalah public good (Gunatilaka, 1999:109).

Tujuan pembangunan perdesaan sangat luas. Menurut Bajracharya (1995:27-50) pembangunan kota kecil sangat penting untuk meningkatkan kondisi masyarakat miskin di perdesaan di negara berkembang. Argumentasi membangun kota kecil (mokropolitan) adalah:

  1. Kota kecil akan memberi pasar pada konsumen diperkotaan, dan fungsinya    sebagai pusat pemasaran hasil produkdi pertanian dari wilayah pedesaan.
  2. Kota kecil memungkinkan untuk memberikan pekerjaan non-farm bagi penduduk disekitarnya.
  3. Kota kecil sebagai lokasi yang tepat untuk mengkonsentrasikan investasi prasarana dan sarana untuk mendukunbg kegiatan pertanian, kesehatan, pendidikan dan inovasi usaha pertanian.

Dalam beberapa wilayah pedesaan, tujuan-tujuan pembangunan kota kecil adaah untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang ditujukan untuk memecahkan masalah kependudukan dan lapangan kerja. Oleh karena itu pendekatan pembangunan perdesaan juga harus sesuai dengan potensi ekonomi yang dominant. Terlebih lagi bahwa pembangunan perdesaan merupakan bagian pembangunan nasional yang harus memperhatikan distribusi permbangunan yang merata, ekonomi berkelanjutan dan kestabilan nasional (Pranoto, 2004:136).

Di wilayah lain, pertumbuhan ekonomi bukan merupakan tujuan. Masyarakat lebih menginginkan perbaikan upah dan standar kehidupan. Dengan demikian perencanaan pembangunan perdesaan memerlukan pendekatan yang holistic dengan memadukan peranan pemerintah pusat memberikan arah dan ide pembangunan seacara umum dan disesuaikan oleh pemerintah daerah Kabupaten atau kota berdasarkan kondisi lokal (Osinki dan Herman, 1999:79-81).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s