Pornografi

Dalam pengertian aslinya, pornografi secara harafiah berarti “tulisan tentang pelacur”, dari akar kata Yunani klasik πορνη dan γραφειν. mulanya adalah sebuah eufemisme dan secara harafiah berarti ‘(sesuatu yang) dijual.’ Kata ini berkaitan dengan kata kerja ? yang artinya menjual. Kata ini berasal dari dari istilah Yunani untuk orang-orang yang mencatat “pornoai”, atau pelacur-pelacur terkenal atau yang mempunyai kecakapan tertentu dari Yunani kuno. Pada masa modern, istilah ini diambil oleh para ilmuwan sosial untuk menggambarkan pekerjaan orang-orang seperti Nicholas Restif dan William Acton, yang pada abad ke-18 dan 19 menerbitkan risalat-risalat yang mempelajari pelacuran dan mengajukan usul-usul untuk mengaturnya. Istilah ini tetap digunakan dengan makna ini dalam Oxford English Dictionary hingga 1905.

Belakangan istilah digunakan untuk publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, khususnya yang dianggap berselera rendah atau tidak bermoral, apabila pembuatan, penyajian atau konsumsi bahan tersebut dimaksudkan hanya untuk membangkitkan rangsangan seksual. Sekarang istilah ini digunakan untuk merujuk secara seksual segala jenis bahan tertulis maupun grafis. Istilah “pornografi” seringkali mengandung konotasi negatif dan bernilai seni yang rendahan, dibandingkan dengan erotika yang sifatnya lebih terhormat. Istilah eufemistis seperti misalnya film dewasa dan video dewasa biasanya lebih disukai oleh kalangan yang memproduksi materi-materi ini.

Meskipun demikian, definisi pornografi sangat subyektif sifatnya. Karya-karya yang umumnya diakui sebagai seni seperti misalnya patung “Daud” karya Michelangelo dianggap porno oleh sebagian pihak.

Kadang-kadang orang juga membedakan antara pornografi ringan dengan pornografi berat. Pornografi ringan umumnya merujuk kepada bahan-bahan yang menampilkan ketelanjangan, adegan-adegan yang secara sugestif bersifat seksual, atau menirukan adegan seks, sementara pornografi berat mengandung gambar-gambar alat kelamin dalam keadaan terangsang dan kegiatan seksual termasuk penetrasi. Di dalam industrinya sendiri dilakukan klasifikasi lebih jauh secara informal. Pembedaan-pembedaan ini mungkin tampaknya tidak berarti bagi banyak orang, namun definisi hukum yang tidak pasti dan standar yang berbeda-beda pada penyalur-penyalur yang berbeda pula menyebabkan produser membuat pengambilan gambar dan penyuntingannya dengan cara yang berbeda-beda pula. Mereka pun terlebih dulu mengkonsultasikan film-film mereka dalam versi yang berbeda-beda kepada tim hukum mereka.

Sejarah Pornografi.

Pornografi mempunyai sejarah yang panjang. Karya seni yang secara seksual bersifat sugestif dan eksplisit sama tuanya dengan karya seni yang menampilkan gambar-gambar yang lainnya. Foto-foto yang eksplisit muncul tak lama setelah ditemukannya fotografi. Karya-karya film yang paling tuapun sudah menampilkan gambar-gambar telanjang maupun gambaran lainnya yang secara seksual bersifat eksplisit.

Manusia telanjang dan aktivitas-aktivitas seksual ditampilkan dalam sejumlah karya seni paleolitik (mis. patung Venus), namun tidak jelas apakah tujuannya adalah membangkitkan rangsangan seksual. Sebaliknya, gambar-gambar itu mungkin mempunyai makna spiritual. Ada sejumlah lukisan porno di tembok-tembok reruntuhan bangunan Romawi di Pompeii. Salah satu contoh yang menonjol adalah gambar tentang sebuah bordil yang mengiklankan berbagai pelayanan seksual di dinding di atas masing-masing pintu. Di Pompeii orang pun dapat menjumpai gambaran zakar dan buah zakar yang ditoreh di sisi jalan, menunjukkan jalan ke wilayah pelacuran dan hiburan, untuk menunjukkan jalan kepada para pengunjung. Para arkeolog di Jerman melaporkan pada April 2005 bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai sebuah gambaran tentang adegan porno yang berusia 7.200 tahun yang melukiskan seorang laki-laki yang sedang membungkuk di atas seorang perempuan dalam cara yang memberikan kesan suatu hubungan seksual. Gambaran laki-laki itu diberi nama Adonis von Zschernitz.

Buku-buku komik porno yang dikenal sebagai kitab suci Tijuana mulai muncul di AS pada tahun 1920-an.

Pada paruhan kedua abad ke-20, pornografi di Amerika Serikat berkembang dari apa yang disebut “majalah pria” seperti Playboy dan Modern Man pada 1950-an. Majalah-majalah ini menampilkan perempuan yang telanjang atau setengah telanjang perempuan, kadang-kadang seolah-olah sedang melakukan masturbasi, meskipun alat kelamin mereka ataupun bagian-bagiannya tidak benar-benar diperlihatkan. Namun pada akhir 1960-an, majalah-majalah ini, yang pada masa itu juga termasuk majalah Penthouse, mulai menampilkan gambar-gambar yang lebih eksplisit, dan pada akhirnya pada 1990-an, menampilkan penetrasi seksual, lesbianisme dan homoseksualitas, seks kelompok, masturbasi, dan fetishes.

Film-film porno juga hampir sama usianya dengan media itu sendiri. Menurut buku Patrick Robertson, Film Facts, “film porno yang paling awal, yang dapat diketahui tanggal pembuatannya adalah A L’Ecu d’Or ou la bonne auberge“, yang dibuat di Prancis pada 1908. Jalan ceritanya menggambarkan seorang tentara yang kelelahan yang menjalin hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan. El Satario dari Argentina mungkin malah lebih tua lagi. Film ini kemungkinan dibuat antara 1907 dan 1912. Robertson mencatat bahwa “film-film porno tertua yang masih ada tersimpan dalam Kinsey Collection di Amerika. Sebuah film menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula ditetapkan. Film Jerman Am Abend (sekitar 1910) adalah, demikian tulis Robertson, “sebuah film pendek sepuluh menit yang dimulai dengan seorang perempuan yang memuaskan dirinya sendiri di kamarnya dan kemudian beralih dengan menampilkan dirinya sedang berhubungan seks dengan seorang laki-laki, melakukan fellatio dan penetrasi anal.

Banyak film porno seperti itu yang dibuat dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, namun karena sifat pembuatannya dan distribusinya yang biasanya sembunyi-sembunyi, keterangan dari film-film seperti itu seringkali sulit diperoleh.

Mona (juga dikenal sebagai Mona the Virgin Nymph), sebuah film 59-menit 1970 umumnya diakui sebagai film porno pertama yang eksplisit dan mempunyai plot, yang diedarkan di bioskop-bioskop di AS. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm, yang kemudian membuat film porno berat (atau ringan, tergantung versi yang diedarkan), dengan anggaran yang relatif tinggi, yaitu film Flesh Gordon.

Film tahun 1971 The Boys in the Sand dapat disebutkan sebagai yang “pertama” dalam sejumlah hal yang menyangkut pornografi. Film ini umumnya dianggap sebagai film pertama yang menggambarkan adegan porno homoseksual. Film ini juga merupakan film porno pertama yang mencantumkan nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun umumnya menggunakan nama samaran). Ini juga film porno pertama yang membuat parodi terhadap judul film biasa (judul film ini The Boys in the Band). Dan ini adalah film porno kelas X pertama yang dibuat tinjauannya oleh New York Times.

Pengertian Pornografi dan Kesehatan Reproduksi.

Pornografi berasal dari kata porne dan graphien, bahasa yunani. Porne berarti perempuan jalang, graphien berarti tulisan. Dalam pengertian lebih luas pornografi berarti tulisan, gambar, lukisan, tanyangan audio-visual, pembicaraan dan gerakan-gerakan tubuh yang membuka anggota tubuh tertentu secara vulgar yang semata-mata untuk menarik perhatian lawan jenis. (Abu Al-Ghifari:2004;29-30)

Tahun 1857, Oxford Dictionary member pengertian pada kata pornografi sebagai “menulis soal-soal pelacur”. Kamus Webster mendefinisikan pornografi sebagai “lukisan tak bermoral yang menghiasi dinding ruangan untuk pesta liar, seperti yang terdapat di Pompei.” (Soebagijo:2008;26)

Kamus besar Bahasa Indonesia merumuskan pornografi sebagai: (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi; (2) bahan bacaan yang sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi/seks.(Kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga; 889 dalam Soebagijo; 2008; 27)

Menurut sebuah situs kamus popular di internet (Wikipedia) pornografi adalah representasi tubuh manusia atau prilaku seksual manusia yang bertujuan untuk membangkitkan hasrat seksual. (http//www.Wekipidia

Dr H. B. Jasin dalam Raviqoh (2002) mendifinisikan pornografi adalah setiap tulisan atau gambar yang ditulis atau digambar dengan maksud sengaja untuk meransang seksual. Pornografi membuat fantasi pembaca bersayap dan ngelayap ke daerah-daerah kelamin menyebabkan syahwat berkobar-kobar.

Lord Cockburn (Hakim Agung Amerika Seikat) seperti dikutip oleh Tjipta Lesmana dalam Raviqoh (2002) mengatakan bahwa unsure pokok obscenity adalah to deprave and corrupt minds (mengkorup dan merendahkan pikiran sehat kita). Sedangkan hakim Bryan (dalam kasus “Roth” di Amerika) mendefinisikan bahwa pornografi menyebabkan munculnya prurent interest dan shameful or morbid interest in sex (prurent interest adalah nafsu rendah, nafsu binatang; shameful or morbid interest adalah rasa malu karena fikiran tentang seks) Adapun menurut Hooge Raad, pornografi dapat menimbulkan fikiran jorok.

Komisi Williams Inggris seperti dikutip Tjipta Lesmana dalam Raviqoh (2002) mendefinisikan bahwa porno harus memenuhi unsur (a) fungsi dan (b) isi. Fungsinya ialah untuk membangkitkan birahi khalayak, sedangkan isinya berupa penggambaran yang sejelas-jelasnya segala sesuatu mengenai seks, antara lain organ seks, postur, dan aktifitas seksual. Menurut H. Montgonary Hyde dalam A History of Pornography: “The word is derived from the greek Pornographos meaning literally “the writing of harlots”. Thus in its original significance it connotes the description of the life, manners and customs of prostitutes and patrons”. (Perkataan pornografi berasal dari kata Yunani kuno Pornographos yang menurut arti aslinya ialah “tulisan-tulisan tentang pelacur”, maka dalam arti aslinya kata itu berarti tulisan tentang kehidupan, kelakuan dari pada pelacur-pelacur serta langganannya).

Sedangkan menurut rancangan undang-undang Republik Indonesia tentang pornografi pada Bab 1 yang memuat Ketentuan umum maka pada pasal 1 ayat 1 dikatakan: Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Kesehatan reproduksi menurut definisi WHO adalah keadaan yang memungkinkan proses reproduksi dapat tercapai secara sehat, baik fisik mental maupun sosial yang bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelainan. Dalam Konfrensi kependudukan di Kairo tahun 1994 disusun pula definisi kesehatan reproduksi yaitu keadaan sehat yang menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental dan sosial, dan bukan sekedar tidak adanya penyakit atau gangguan disegala hal yang berkaitan dengan system reproduksi, fungsinya maupun proses reproduksi itu sendiri (Mohammad 1998 dalam Kushendiati 2005).

Menurut program kerja WHO ke IX (1996-2001), masalah kesehatan reproduksi ditinjau dari pendekatan siklus kehidupan keluarga terdiri dari:

o  Praktek tradisional yang berakibat buruk semasa anak-anak seperi mutilasi genital, diskriminasi nilai anak, dan sebagainya.

o  Masalah kesehatan reproduksi remaja (kemungkinan besar dimulai sejak masa kanak-kanak yang seringkali muncul dalam bentuk kehamilan remaja, kekerasan/pelecehan seksual dan tindakan seksual tidak aman).

o  Tidak terpenuhinya kebutuhan berkeluarga berencana, biasanya terkait dengan isu aborsi tidak aman, mortalitas dan morbiditas ibu dan anak (sebagai kesatuan) selama kehamilan, persalinan dan masa nifas, yang diikuti dengan malnutrisi, anemia, dan berat badan bayi rendah.

o  Infeksi saluran reproduksi (ISR) yang berkaitan dengan PMS dan kemandulan.

o  Syndrom pre dan post menopause/andropause serta peningkatan resiko kanker organ reproduksi.

o  Kekurangan horman yang menyebabkan osteoporosis dan masalah ketuaan lainnya (Depkes RI, 1996 dalam Kushendiati 2005).

Pada dasarnya kesehatan reproduksi merupakan unsur intrinsik dan penting dalam kesehatan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Selain itu kesehatan reproduksi juga merupakan syarat yang esensial bagi kesehatan bayi, anak-anak, remaja dan orang dewasa, bahkan orang-orang yang berusia setelah masa reproduksi. Konsep kesehatan reproduksi mempunyai makna manusia seyogyanya memiliki kemampuan melaksanakan kehidupan seksual yang aman, memuaskan dan bertanggung jawab, serta mampu dan bebas memutuskan kapan dan seberapa jauh mereka berreproduksi (Turmen,1994 dalam Saifudin1999 dalam Kurniawati 2001 ; 11).

Tehnologi dan Pornografi.

Pornografi yang diedarkan secara massal sama tuanya dengan mesin cetak sendiri. Hampir bersamaan dengan penemuan fotografi, teknik ini pun digunakan untuk membuat foto-foto porno. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa pornografi telah menjadi kekuatan yang mendorong teknologi dari mesin cetak, melalui fotografi (foto dan gambar hidup) hingga video, TV satelit dan internet. Seruan-seruan untuk mengatur atau melarang teknologi-teknologi ini telah sering menyebutkan pornografi sebagai dasar keprihatinannya.

Selama sejarahnya, kamera film juga telah digunakan untuk membuat pornografi, dan dengan munculnya perekam kaset video rumahan, industri film porno pun mengalami perkembangan besar-besaran dan melahirkan bintang-bintang “film dewasa” seperti Ginger Lynn, Christy Canyon, dan Traci Lords (belakangan diketahui usianya di bawah usia legal, yaitu 18 tahun, pada saat membuat sebagian besar dari film-filmnya). Orang kini dapat menonton film porno dengan leluasa dalam privasi rumahnya sendiri, ditambah dengan pilihan yang lebih banyak untuk memuaskan fantasi dan fetishnya.

Ditambah dengan hadirnya kamera video yang murah, orang kini mempunyai sarana untuk membuat filmnya sendiri, untuk dinikmati sendiri atau bahkan untuk dijual dan memperoleh keuntungan.

Ada yang berpendapat bahwa Sony Betamax kalah dalam perang format dari VHS (dalam menjadi sistem rekam/tonton video di rumah) karena industri video film biru memilih VHS ketimbang sistem Sony yang secara teknis lebih unggul. Upaya-upaya inovasi lainnya muncul dalam bentuk video interaktif yang memungkinkan pengguna memilih variabel-variabel seperti sudut kamera berganda, penutup berganda (mis. “Devil in the Flesh”, 1999), dan isi DVD untuk komputer saja.

Para produsen film erotik diramalkan akan memainkan peranan penting dalam menentukan standar DVD yang akan datang. Kelengkapan (outfit) yang besar cenderung mendukung Cakram cahaya biru yang memiliki kapasitas tinggi, sementara kelengkapan yang kecil umumnya lebih mendukung HD-DVD yang tidak begitu mahal. Menurut sebuah artikel Reuter 2004 “Industri bermilyar-milyar dolar ini menerbitkan sekitar 11.000 judul dalam bentuk DVD setiap tahunnya, memberikannya kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi pertempuran antara kedua kelompok studio dan perusahaan teknologi yang saling bersaing untuk menetapkan standar untuk generasi berikutnya”.

Manipulasi foto dan pornografi yang dihasilkan oleh komputer

Sejumlah pornografi dihasilkan melalui manipulasi digital dalam program-program editor gambar seperti Adobe Photoshop. Praktik ini dilakukan dengan membuat perubahan-perubahan kecil terhadap foto-foto untuk memperbiaki penampilan para modelnya, seperti misalnya menyingkirkan cacat pada kulit, memperbaiki cahaya dan kontras fotonya, hingga perubahan-perubahan besar dalam bentuk membuat photomorph dari makhluk-makhluk yang tidak pernah ada seperti misalnya gadis kucing atau gambar-gambar dari para selebriti yang bahkan mungkin tidak pernah memberikan persetujuannya untuk ditampilkan menjadi film porno.

Manipulasi digital membutuhkan foto-foto sumber, tetapi sejumlah pornografi dihasilkan tanpa aktor manusia sama sekali. Gagasan tentang pornografi yang sepenuhnya dihasilkan oleh komputer sudah dipikirkan sejak dini sebagai salah satu daerah aplikasi yang paling jelas untuk grafik komputer dan pembuatan gambar tiga dimensi.

Hingga akhir 1990-an pornografi yang dihasilkan melalui manipulasi digital belum dapat dihasilkan dengan murah. Pada awal 2000-an kegiatan ini semakin berkembang, ketika perangkat lunak untuk pembuatan model dan animasi semakin maju dan menghasilkan kemampuan-kemampuan yang semakin tinggi pada komputer. Pada tahun 2004, pornografi yang dihasilkan lewat komputer gambarnya melibatkan anak-anak dan hubungan seks dengan tokoh fiksi seperti misalnya Lara Croft sudah dihasilkan pada tingkat yang terbatas. Terbitan Playboy pada Oktober 2004 menampilkan foto-foto telanjang dada dari tokoh permainan video BloodRayne.

Internet

Dengan munculnya internet, pornografi pun semakin mudah didapat. Sebagian dari pengusaha wiraswasta internet yang paling berhasil adalah mereka yang mengoperasikan situs-situs porno di internet. Demikian pula foto-foto konvensional ataupun video porno, sebagian situs hiburan permainan video “interaktif”. Karena sifatnya internasional, internet memberikan sarana yang mudah kepada konsumen yang tinggal di negara-negara di mana keberadaan pornografi dilarang sama sekali oleh hukum, atau setidak-tidaknya mereka yang tidak perlu memperlihatkan bukti usia, dapat dengan mudah mendapatkan bahan-bahan seperti itu dari negara-negara lain di mana pornografi legal atau tidak mengakibatkan tuntutan hukum.

Di internet, pornografi kadang-kadang dirujuk seagai pr0n yaitu plesetan dari p0rnporno yang ditulis dengan angka nol. Salah satu teori tentang asal-usul ejaan ini ialah bahwa ini adalah siasat yang digunakan untuk mengelakkan penyaring teks dalam program-program pesan pendek atau ruang obrol. Menurut Google, setiap hari terjadi 68 juta pencarian dengan menggunakan kata “porno” atau variasinya.

Penyebab Maraknya Pornografi di Media Cetak

Pornografi semakin meningkat seiring dengan liberalnya masyarakat terhadap perilaku seksual dan adanya nilai ekonomi dalam produk tersebut terutama dalam masyarakat kapitalis, sehingga dalam perkembangannya pornografi semakin diterima masyarakat, terutama oleh kaum laki-laki (Kadis, H. Sanford, dalam Raviqoh 2002).

Adapun pornografi yang merbak di media cetak belakangan ini sudah pasti ada hubungannya dengan kebebasan pers dan pengadilannya (freedom and control of the prePpss). Keberadaan media massa selalu dalam konteks tersebut. Disamping itu merbaknya pornografi di media cetak juga tidak mungkin dilepaskan dari masalah persaingan bisnis yang belakangan ini semakin sengit dalam kehidupan pers Indonesia. Media massa memang berfungsi sebagai barang dagangan. Oleh karena itu, media yang paling laku adalah yang mahir mewarakan sensasi. Pornografi dimedia massa tergolong sensasi yang paling menyenangkan bagi khalayak (audience), khususnya yang berusia muda.

Faktor lain penyebab maraknya pornografi dimedia cetak adalah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Pornografi dengan leluasa menyebar keseluruh dunia tanpa hambatan teknis. Hal tersebut dipersulit lagi karena rambu etika dan hukum tidak lagi memiliki kekuatan memadai untuk mengontrol kecanggihan tehnologi komunikasi dan informasi itu. (A Muis dalam Forum keadilan No 16 2000 dalam Raviqoh 2002).

Menurut Ashadi siregar yang dikutip oleh Trisno yulianto dan Ari Kristianawati dalam Raviqoh (2002) pornografi media dipengaruhi oleh dua relasi sosial yang bersifat “mutualistis” di satu sisi, sedangkan di sisi lain berwatak “parasitis”. Mutualistis-nya adalah pornografi media akan terus berkembang mengikuti pola penalaran (tingkat apresiasi) masyarakat pembaca dan juga merupakan konsekwensi logis keterbukaan ruang informasi yang tidak terkontrol. Adanya hubungan antara pemilik modal jurnalis seksis (pornografi media) dan masyarakat pembaca/penikmat produk pornografi media saling membutuhkan. Parasitis-nya adalah bahwa pornografi media merupakan ekspresi hegemoni maskulinitas dalam kehidupan masyarakat kita, dimana posisi perempuan selalu dianggap lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki. Perempuan adalah obyek pemuas syahwat libiditas laki-laki (Surat kabar Kompas, 21 Januari 2002 dalam Raviqoh 2002).

Batasan Pornografi.

Usia pornografi sama tuanya dengan keberadaan manusia. Pornografi adalah salah satu jenis penyampaian pesan dalam komunikasi antar manusia (human communication) yang bersifat khas. Disebut khas karena bermuatan persuasi seksual. Kemunculan pornografi seiring dengan kemampuan manusia mengembangkan kepandaian berbahasa lisan (berbicara), lalu kepandaian menulis/menggambar (komunikasi piktoral).

Di Indonesia usia pornografi di media cetak dan media elektronik (waktu itu hanya radio dan film) dapat diukur dari keberadaan Undng-undang hukum pidana komunikasi massa yang dibuat pemerintah kolonial Hindia Belanda (1918),yang kemudian tercermin dalam pasal 282 dan pasal 532-533 kitap undang-undang hukum pidana (KUHP). Itu berarti, pornografi memang bukan hal baru di media cetak dan media elektronik (film, radio, TV, VCD, kaset radio, laser disc, dan internet) (Forum keadilan 25 Juli 2000 dalam Raviqoh 2002).

Istilah porno bisa mencakup baik tulisan, gambar, lukisan maupun kata-kata lisan, tarian serta apa saja yang bersifat cabul, sedangkan pornografi hanya terbatas pada tulisan, gambar, dan lukisan; terbatas pada apa yang bisa di-graphein (digambar, ditulis atau dilukis). Adapun istilah pornografi menurut KUHP diberlakukan juga untuk radio. Dalam hal ini termasuk pidato, obrolan, atau nyanyian yang dapat membangkitkan nafsu seksual di radio (pasal 532 KUHP).

Apa yang dianggap sebagai pornografi pada hal-hal tertentu sulit dibedakan dengan hasil seni maupun sebagai pengembangan ilmu pengetahuan atau menyiarkan informasi. Sampai saat ini, baik pakar maupun yurisprodensi belum ada yang memberi batasan tentang perbuatan “melanggar kesusilaan”. Para pakar pornografi belum sepakat terhadap pornografi yang merusak (Laden Marpaung dalam Raviqoh 2002).

Namun A MUIS, Guru besar ilmu hukum dan komunikasi pasca sarjana Universitas Hasanudin dan Universitas Indonesia membuat batasan pornografi yaitu tulisan, gambar, benda, kata-kata, dan gerak gerik yang membangkitkan nafsu birahi orang dewasa yang normal (Forum keadilan No 16, 2000 dalam Raviqoh 2002). Sementara itu, bentuk pornografi menurut Clinard dan Meier dalam bukunya Sosiology of Defiant Behaviour, dijabarkan sebagai gambar yang tidak bergerak dimajalah, buku dan artikel pendek, gambar bergerak di alat perekam seperti film dan bentuk terbaru dari pornografi adalah telpon seks. Clinard & Meier dalam Raviqoh 2002).

Ragam Pornografi.

Komisi Meese di Amerika serikat, pada tahun 1986 berhasil mengidentifikasi lima jenis pornografi secara muatan yaitu:

  1. Sexually violent material, yaitu materi pornografi dengan meyertakan kekerasan. Jenis pornografi ini tidak saja menggambarkan adegan seksual secara eksplisit tetapi juga melibatkan tindakan kekerasan.
  2. Nonviolent material depicting degradation, domination, subordination, or humiliation. Meskipun jenis ini tidak menggunakan kekerasan dalam materi seks yang disajikannya, didalamnya terdapat unsur yang melecehkan perempuan, misalnya adengan melakukan seks oral, atau “dipakai” oleh beberapa pria, atau melakukan hubungan seks dengan binatang.
  3. Nonviolent and nondegrading materials adalah produk media yang memuat adegan hubungan seksual tanpa unsur kekerasan atau pelecehan terhadap perempuan. Contoh pornografi jenis ini adegan pasangan yang melakukan hubungan seksual tanpa paksaan.
  4. Nudity, yaitu materi seksual yang menampilkan model telanjang. Majalah Playboy masuk dalam katagori ini.
  5. Child pornography produk media yang menampilkan anak atau remaja sebagai modelnya.

Dri lima katagori pornografi tersebut, dalam perkembanganya kemudian ragam pornografi secara muatan ini disederhanakan menjadi 3 jenis yaitu Softcore, Hardcore, dan Obscenity (kecabulan). Pada pornografi Softcore, biasanya hadir materi-materi pornografi berupa ketelanjangan, adegan-adegan yang mengesankan terjadinya hubungan seks (sexually suggestive scenes) dan seks simulasi (Simulated sex). Untuk Hardcore, kita di Indonesia mengenalnya sebagai triple X (X rated), materi orang dewasa (Adult material), dan materi seks eksplisit (sexually explicit material) seperti penampilan close up alat genital dan aktivitas seksual, termasuk penetrasi.

 Sedangkan sesuatu dianggap Obscenity atau kecabulan oleh publik Amerika Serikat, bila sesuatu tersebut menyajikan materi seksualitas yang melanggar secara ofensif batas-batas kesusilaan masyarakat,yang menjijikan, tidak memiliki nilai artistik, sastra, politik, dan saintifik. Untuk itu batasan kecabulan di tiap Negara bagian berbeda-beda, tergantung satandar komunitas setempat, alias tidak bersifat nasional. Namun demikian kita bisa mengelompokan pornografi anak, yakni menggunakan anak sebagai objek, hubungan seks dengan hewan, yang merendahkan martabat manusia (melecehkan harga diri seseorang), menggunakan kekerasan, dan atau sadisme.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s