RSS

PENGARUH INFRASTRUKTUR JALAN DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI

21 Mei

2.1 Infrastruktur Jalan

Infrastruktur mengacu pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara ekonomi dan sosial (Tanimart, 2008). Infrastruktur pada dasarnya merupakan asset pemerintah yang dibangun dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat. Prinsipnya ada dua jenis infrastruktur, yakni infrastruktur pusat dan daerah. Infrastruktur pusat adalah infrastruktur yang dibangun pemerintah pusat untuk melayani kebutuhan masyarakat dalam skala nasional, seperti jalan raya antar propinsi, pelabuhan laut dan udara, jaringan listrik, jaringan gas, telekomunikasi dan sebagainya. Infrastruktur daerah adalah infrastruktur yang dibangun pemerintah daerah, seperti penyediaan air bersih, jalan khas untuk kepentingan daerah pariwisata dan sebagainya. Ditinjau dari fungsinya, infrastruktur dibedakan pula menjadi dua, yakni infrastruktur yang menghasilkan pendapatan dan yang tidak menghasilkan pendapatan. Jenis infrastruktur pertama, umumnya dimanfaatkan sekelompok masyarakat tertentu, dimana dengan fasilitas yang disediakan, masyarakat penggunanya dikenakan biaya. Seperti air bersih, listrik, telepon, tanam wisata dan sebagainya. Jenis infrastruktur kedua, penyediaannya untuk dinikmati masyarakat umum, seperti jalan raya, jembatan, saluran air irigasi dan sebagainya sehingga penggunanya tidak dikenai biaya (Marsuki, 2007). Pengertian Infrastruktur disini menurut kamus ekonomi diartikan sebagai akumulasi dari investasi yang dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sebelumnya yang meliputi barang yang dapat dilihat dan diraba misal jalan raya, jembatan, persediaan air dan lain-lain, serta barang-barang yang tidak dapat diraba seperti tenaga kerja yang terlatih/terdidik yang diciptakan oleh infestasi modal sumber daya manusia.

2.1.1 Katagori Infastruktur

Menurut Grigg (dalam Tanimart, 2008) enam kategori besar infrastruktur sebagai berikut: 1. Kelompok jalan (jalan, jalan raya, jembatan) 2. Kelompok pelayanan transportasi (transit, jalan rel, pelabuhan, bandar udara) 3. Kelompok air (air bersih, air kotor, semua sistem air, termasuk jalan air) 4. Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat) 5. Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga luar 6. Kelompok produksi dan distribusi energi (listrik dan gas)

2.1.2 Krisis Infrastruktur

1. Penyebab

a. Kegagalan pembuatan (modal, desain, konstruksi/teknologi) b. Runtuh (ambruk, teknologi) c. Rusak/aus (umur, pemakaian, salah pakai) d. Bencana alam (banjir, gempa, kebakaran) e. Tidak ada penambahan/penyesuaian (kapasitas kurang) f. Tidak ada/minim pemeliharaan g. Usang (tidak sesuai, terlambat dibuat, perkembangan teknologi)

2. Kenyataan (Kesalahan manajemen):

a. Pemotongan anggaran/investasi kurang b. Kesalahan pemilihan infrastruktur c. Pemakaian melewati umur/life-cycle tidak diperhatikan d. Kecenderungan mengabaikan pemeliharaan e. Mahalnya pemeliharaan (20 – 40% dari konstruksi baru) f. Teknologi (R&D) kurang berkembang g. Mahalnya teknologi baru

2.2 Pertumbuhan Ekonomi

Firmansyah (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan Nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.

2.2.1 Cara Mengukur Pertumbuhan Ekonomi

Cara Mengukur Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dengan cara membandingkan Gross National Product (GNP) tahun yang sedang berjalan dengan GNP tahun sebelumnya Firmansyah (2009)

2.2.2 Tingkatan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Werner Sombart (dalam Firmansyah, 2009) pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan:

1. Masa perekonomian tertutup Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau jasa. Masa pererokoniam ini memiliki ciri-ciri: a. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri b. Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen c. Belum ada pertukaran barang dan jasa

2. Masa kerajinan dan pertukangan Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut: a. Meningkatnya kebutuhan manusia b. Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian c. Timbulnya pertukaran barang dan jasa d. Pertukaran belum didasari profit motive

3. Masa kapitalis Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba.

Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa sebagai berikut: a. Tingkat prakapitalis Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu: 1) Kehidupan masyarakat masih statis 2) Bersifat kekeluargaan 3) Bertumpu pada sektor pertanian 4) Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri 5) Hidup secara berkelompok b. Tingkat kapitalis Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu: 1) Kehidupan masyarakat sudah dinamis 2) Bersifat individual 3) Adanya pembagian pekerjaan 4) Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan c. Tingkat kapitalisme raya Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu: 1) Usahanya semata-mata mencari keuntungan 2) Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi 3) Produksi dilakukan secara masal dengan alat modern 4) Perdagangan mengarah kepada ke persaingan monopoli 5) Dalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu majikan dan buruh d. Tingkat kapitalisme akhir Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu : 1) Munculnya aliran sosialisme 2) Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi 3) Mengutamakan kepentingan bersama

2.3 Pengaruh Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Perkembangan infrastruktur dengan pembangunan ekonomi mempunyai hubungan yang erat dan saling ketergantungan satu sama lain. perbaikan dan peningkatan infrastruktur pada umumnya akan dapat meningkatkan mobilitas penduduk, terciptanya penurunan ongkos pengiriman barang-barang, terdapatnya pengangkutan barang-barang dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan perbaikan kualitas dari jasa- jasa pengangkutan tersebut. Saat ini masalah infrastruktur menjadi agenda penting untuk dibenahi pemerintah daerah, karena infrastruktur merupakan penentu utama keberlangsungan kegiatan pembangunan, diantaranya untuk mencapai target pembanguan ekonomi secara kualitatif maupun kuantitatif. Dalam jangka pendek pembangunan infrastruktur akan menciptakan lapangan kerja sektor konstruksi dalam jangka menengah dan panjang akan mendukung peningkatan efisiensi dan produktifitas sektor-sektor ekonomi terkait. Sehingga pembangunan infrastruktur dapat dianggap sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas hidup, peningkatan mobilitas barang dan jasa, serta dapat mengurangi biaya investor dalam dan luar negeri (Marsuki, 2007). Hubungan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi adalah secara langsung infrastruktur memberikan manfaat kepada rumah tangga (household) dan banyak dinikmati juga oleh perusahaan yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya memberikan kesejahteraan Prud’homme (dalam Briceno dkk, 2004). Bagan 2.1 Kontribusi Infrastruktur terhadap Pembangunan Keterkaitan antara infrastruktur (sektor transportasi) dengan partumbuhan ekonomi pada konteks pengeluaran pemerintah (goverment spending) disektor transportasi sesuai dengan Teori Keyles (dalam Gardner Ackley, 1961) menyatakan bahwa kegiatan pemerintah merembes ke segala bidang dengan asumsi perekonomian tertutup, dimana Y adalah pertumbuhan ekonomi, C adalah konsumsi, G adalah volume pengeluaran pemerintah, dan I adalah investasi. Secara sistematis memiliki identitas sebagai berikut: Penelitian tentang efek investasi negara pada infrastruktur (dalam hal ini transportasi dan komunikasi) terhadap pertumbuhan dilakukan oleh Easterly dan Rebelo pada tahun 1993. Dengan menggunakan penilaian variabel sebagai penolong untuk mengindari endogenous yang menghubungkan dua variabel dan kemungkinan hubungan timbal balik sebab akibat. Dengan metode pool regresi, ditemukan bahwa investasi publik dalam bidang infrastruktur memiliki hubungan yang selalu positif dengan koefisien yang cukup tinggi antara 0,59 sampai 0,66 terhadap pertumbuhan. Dalam mendorong pembangunan infrastruktur, pemerintah sebagai pemain utama dalam sektor infrastruktur selayaknya menjaga kesinambungan investasi pembangunan infrastruktur dan memprioritaskan infrastruktur dalam rencana pembangunan, sehingga infrastruktur dapat dibenahi baik secara kuantitas maupun kualitas. Pembangunan infrastruktur sepatutnya melibatkan pihak swasta dan masyarakat demi tercapainya pembangunan yang berkesinambungan. Haruslah ada kombinasi yang tepat antar infrastruktur berskala besar dan kecil untuk mencapai target pemerataan pendapatan dan penanggulangan kemiskinan. Untuk itu perlu pendekatan lebih terpadu dalam pembangunan infrastruktur mulai dari perencanaan sampai pelayanannya kepada masyarakat, guna menjamin sinergi antar sektor, daerah maupun wilayah. Secara lebih rinci penyediaan infrastruktur terhadap pembangunan ekonomi adalah: (Basri, 2002). 1. Mempercepat dan menyediakan barang-barang yang dibutuhkan. 2. Tersedianya infrastruktur akan memungkinkan tersedianya barang-barang kebutuhan masyarakat dengan biaya lebih yang lebih murah. 3. Infrastruktur yang baik dapat memperlancar transportasi yang pada gilirannya merangsang adanya stabilisasi dan mengurangi disparitas harga antar daerah. 4. Infrastruktur yang memperlancar jasa transportasi menyebabkan hasil produksi daerah dapat diangkut dan dijual ke pasar.

By. Hadi Saputra, SKM

About these ads
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2011 in hasil penelitian

 

2 responses to “PENGARUH INFRASTRUKTUR JALAN DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI

  1. azis

    3 Agustus 2012 at 8:18 am

    hasil penelitian ini menjadi bahan bagi saya karena di tempat saya belum ada sarana jalan yang layaak, dan berharap bisa ada perbaikan kedepannya jika ada yang mau meneliti di kampung saya. materinya bagus

    Suka

     
  2. nova

    12 Juni 2013 at 6:19 am

    itu maaf sebelumnyaa .. soal vote, sya berniat memvote dengan memilih sangat bermanfaat ttp sya malah mengklik yang sangat tdk bermanfaat .. maaf sebelumnyaa atas kekurangan saya dengan tidak membaca secara teliti. dan terima kasih tulisannya sangat bermanfaat

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 912 pengikut lainnya.